Yuk lebih jauh mengenal kamera mirrorless

Tiba waktunya buat saya membuat ringkasan tentang kamera mirrorless, yang pada akhirnya diwujudkan oleh hampir semua merk kamera dalam variasi yang cukup beragam demikian juga dengan harganya. Pertumbuhan penjualan kamera mirrorless juga mulai merangkak naik membuktikan bahwa masyarakat sudah mulai bisa menerima kehadiran produk yang menjadi ancaman buat kamera DSLR ini. Tulisan ini akan membahas mengenai sekilas tentang mirrorless, serta produk-produk yang ada dari setiap merknya. Karena pembahasannya cukup panjang, siapkan snack dan minuman saat anda membaca tulisan saya ini ūüôā

Ide awal

Awalnya kamera mirrorless digagas dari pemikiran untuk mengecilkan ukuran kamera dan lensa. Alasannya, kamera DSLR dan lensanya terlalu besar bagi kebanyakan orang, bobotnya juga berat (apalagi lensa-lensa panjang) dan terlalu menarik perhatian saat dipakai memotret di area publik (berapa banyak dari kita yang ditegur satpam di mal saat memotret pakai kamera DSLR?). Sayangnya kamera DSLR tidak bisa dibuat lebih kecil dari yang sudah ada (DSLR paling kecil saat ini adalah Canon 100D) karena dua hal : cermin dan prisma. Cermin inilah komponen utama kamera DSLR, sementara prisma jadi komponen utama yang membuat pemakai DSLR bisa melihat apa yang ‘dilihat’ lensa lewat jendela bidik optik. Sedangkan yang masih sama antara kamera mirrorless dengan DSLR adalah lensanya yang bisa dilepas, sehingga dikenal ada mount (dudukan) lensa untuk format mirrorless.

Kompromi teknis

Kamera mirrorless mencoba membuat dimensi kamera yang kecil, dengan syarat harus menghilangkan cermin dan prisma. Konsekuensinya adalah tidak ada jendela bidik optik, jadi dalam membidik hanya melalui cara¬†live view¬†yang¬†artinya kita melihat di LCD dan pada prinsipnya itu adalah melihat apa yang ‘dilihat’ oleh sensor. Dampaknya adalah sensor terus menerus bekerja mengolah apa yang diterimanya dari lensa, sehingga menguras tenaga baterai.¬†Kalau di kamera DSLR, kita membidik dari jendela bidik optik, dan sensor hanya bekerja saat anda menekan tombol jepret.

Dengan menghilangkan cermin di kamera mirrorless, maka desain sensor bisa ‘didorong’ sedikit ke depan, atau mendekati lensa. Jadi jarak fokal flange di kamera mirrorless menjadi lebih dekat bila dibanding dengan kamera DSLR. Disamping itu dalam desain kamera jadi lebih simpel, dan ¬†jadi lebih kecil. Ilustrasi di atas bisa jadi gambaran betapa kamera mirrorless jauh lebih sederhana walaupun ada kompromi khususnya terkait dengan kinerja auto fokus kamera mirrorless.

Bagi anda yang belum mengenal betul cara kerja DSLR, sebagai info bahwa kamera DSLR juga punya keunggulan di auto fokus berkat adanya modul terpisah berbasis deteksi fasa. Modul ini disebut AF sensor, dengan sejumlah titik AF dan jagoan dalam mengikuti benda bergerak (AF tracking). Tapi auto fokus di kamera DSLR juga ada kekurangan, yaitu terkadang ada lensa-lensa yang sedikit meleset fokusnya, dan perlu dikalibrasi.

Sedangkan kamera mirrorless karena tidak punya modul AF terpisah, memang harus menerima kenyataan kalau auto fokus hanya bisa dari sensor yang berbasis deteksi kontras, persis seperti auto fokus di kamera saku, kamera prosumer bahkan di kamera ponsel cerdas. Untunglah kamera mirrorless generasi terkini semakin cepat dalam hal auto fokusnya karena prosesor kamera semakin cepat dan juga teknologi auto fokusnya semakin membaik. Bahkan mulai terlihat arah penggabungan sistem (hybrid) dimana auto fokus bisa memakai dua metoda sekaligus, deteksi kontras dan deteksi fasa.

Ilustrasi titik fokus pada kamera DSLR (dengan 19 titik fokus) :

All_animate2

Sedangkan area fokus pada kamera mirrorless ilustrasinya seperti ini (dari Lumix G5) :

Contrast Detect AF

Tapi poinnya jelas, di kamera mirrorless sensor memang bekerja cukup keras karena live-view, dan prosesor juga bekerja keras untuk auto fokus, efeknya akan membuat baterai cepat habis. Hal ini semakin runyam karena kamera mirrorless yang cenderung kecil pasti punya baterai yang ukurannya juga kecil. Inilah kompromi teknis dari kamera mirrorless, ada pengorbanan untuk keputusan meniadakan cermin dan prisma demi mengecilkan ukuran kamera.

Aneka ragam kamera mirrorless

Karena masih tergolong baru, kamera mirrorless masih mencari jati diri dengan inovasi dan desain dari tiap merk yang berbeda-beda. Perbedaan yang paling nyata adalah beragamnya ukuran sensor yang dipakai, mulai dari yang sebesar kamera DSLR hingga sekecil kamera saku. Sehingga untuk saat ini saya tidak bisa bilang kalau kamera mirrorless punya kualitas hasil foto yang sama dengan DSLR, karena harus lihat dulu ukuran sensornya :

  • sensor APS-C
  • sensor Four Thirds
  • sensor Nikon CX (1 inci)
  • sensor kecil 1/2.3 inci (Pentax Q)

Banyak alasan tiap produsen untuk memilih ukuran sensor mereka. Awalnya Panasonic dan Olympus yang menggagas kamera mirrorless dengan format Micro Four Thirds (M4/3) dengan sensor Four Thirds, crop factor 2x. Format ini hingga kini masih dipakai dan sepertinya untuk seterusnya. Lalu Sony, Samsung, Fuji dan terakhir Canon memutuskan memakai sensor APS-C (crop factor 1,5x) yang agak lebih besar dari sensor M4/3, sehingga diatas kertas hasil fotonya lebih baik. Nikon membuat kejutan dengan memakai sensor relatif kecil yaitu 1 inci (crop factor 2,7x) dan Pentax dengan mengherankan memilih sensor mungil seperti kamera saku (walau akhirnya Pentax juga membuat kamera mirrorless dengan sensor APS-C, bahkan dengan mount lensa yang sama seperti DSLR Pentax).

Keragaman lain adalah dalam hal segmentasi, dimana minimal ada dua kelompok kamera yang dibuat yaitu kelas basic dan kelas atas. Kelas basic lebih menyerupai kamera saku, bisa dibuat kecil dan minim tombol, bahkan tidak ada dudukan lampu kilat dan roda mode eksposur. Kelas atas dibuat untuk yang lebih serius dalam fotografi, biasanya tombolnya lengkap dan masih menyerupai kamera DSLR namun lebih mungil. Produsen yang sudah matang di kancah mirrorless punya segmentasi yang lebih beragam, seperti Panasonic dengan Lumix G, GH, GF dan GX series, Olympus dengan O-MD, Pen, dan Mini. Sony cukup berani dengan membuat banyak variasi Sony NEX. Kita akan bahas lebih lanjut nanti di segmen masing-masing merk.

Keuntungan kamera mirrorless

Selain menjadi lebih kecil dan ringan, ada juga beberapa keuntungan lain dari kamera mirrorless yaitu kemampuan rekam videonya yang sudah baik, dengan format full HD dan auto fokus kontinu (umumnya lensa yang dibuat untuk kamera mirrorless sudah didesain mumpuni untuk video). Kamera mungil yang hasil fotonya bisa dibilang baik (untuk yang sensornya besar), bisa berganti lensa, oke buat video dan harga cukup wajar, menjadi sisi positif dari kamera mirrorless.

Kiri : DSLR (besar) kanan : mirrorless (kecil)

Pertanyaan banyak orang saat ini adalah, apakah saya membutuhkan kamera mirrorless? Atau mengapa saya harus membeli kamera mirrorless? Bila anda adalah fotografer profesional yang membutuhkan kamera kelas atas untuk bekerja, yang tentunya perlu beragam lensa dan aksesori, saya pikir untuk saat ini kurang sesuai bila memakai mirrorless. Tapi bila anda hanya sekedar hobi fotografi, atau perlu kamera yang layak untuk kebutuhan dokumentasi keluarga, atau hobi memotret sambil jalan-jalan tapi tidak ingin membawa peralatan yang besar dan berat, mungkin kamera mirrorless lebih cocok untuk anda.

Jadi bila disimpulkan, kamera mirrorless lebih cocok untuk anda yang :

  • ingin kamera kecil yang hasil foto sama bagusnya atau mendekati hasil dari kamera DSLR
  • ingin kamera yang bisa berganti lensa, dan akan lebih baik kalau ukuran lensanya juga lebih kecil dari lensa DSLR
  • tidak masalah dengan membidik secara live view¬†via LCD atau EVF-Electronic View Finder (dibanding dengan melihat jendela bidik optik)

Kenali masing-masing merk yuk

Sensor APS-C (crop factor sekitar 1,5x) :

Canon

canon-eos-m

Memakai format mount EF-M, produknya baru ada satu yaitu EOS-M, karena Canon cenderung menunggu perkembangan kompetitor sebelum akhirnya memutuskan ikut membuat kamera mirrorless. Canon membuat sendiri lensa untuk kamera ini, dan lensa EOS DSLR (EF dan EF-S) bisa dipasang di kamera EOS-M dengan tambahan adapter.

Sony

Sony NEX 6

Memakai Sony E mount, produknya diberi nama Sony NEX (desain compact) dan satu lagi yang baru muncul adalah A3000 (mirip DSLR). Filosofi Sony agak berbeda dengan produsen lain dimana kamera yang mirip DSLR ini justru ditempatkan sebagai kamera pemula untuk bersaing dengan DSLR murah. Sementara Sony NEX punya berbagai kelas yang bervariasi harganya. Keuntungan memakai kamera Sony E-mount adalah punya berbagai pilihan lensa termasuk buatan Zeiss dan Minolta, dengan tambahan adapter.

FujiFilm

Fuji-X-E1

Memakai X mount, produknya premium seperti X-Pro1, X-E1 dan X-M1 yang semuanya berdesain retro klasik. Kelebihan Fuji X ini adalah bodi premium dengan sensor tanpa low pass filter dan tata letak pola RGB yang berbeda (dinamai X-trans sensor).

Samsung NX

Samsung-NX2000

Memakai lensa dengan NX mount, produknya cukup bervariasi dari yang premium (NX300) sampai yang terjangkau (NX2000) dan ada yang memakai OS Android. Samsung tampaknya serius untuk membuat berbagai macam lensa NX dalam tahun-tahun mendatang,

Catatan :

Lensa kit yang kerap dipakai untuk kamera mirrorless sensor APS-C umumnya punya fokal 18-55mm yang bidang gambarnya akan setara dengan lensa 28-80mm.

Samsung 18-55mm

Karena sensor APS-C termasuk cukup besar, maka untuk mengakomodir luas permukaan sensor diperlukan lensa dengan diameter besar. Itulah mengapa lensa kit yang jenisnya zoom 18-55mm di kamera mirrorless APS-C tidak bisa dibuat terlalu kecil. Contoh di sebelah kanan adalah lensa kit 18-55mm milik Samsung NX yang menurut saya masih termasuk besar, walaupun sudah dikecilkan sedemikian rupa oleh Samsung.

Di lain pihak Sony punya lensa kit 18-55mm untuk format NEX yang lebih kecil, tapi memakai sistem motor zoom sehingga tidak ada yang bisa diputar manual. Sistem ini lebih menguras baterai dan lebih cocok untuk zoom saat rekam video.

Sensor Micro 4/3 (crop factor 2x) :

Olympus

Oly E-PM2

Olympus merupakan pemain lama di kamera mirrorless, dan memutuskan meninggalkan produksi DSLR. Uniknya Olympus memakai format Micro Four Thirds yang saling kompatibel dengan Panasonic yang juga membuat kamera mirrorless. Beberapa produk terkini dari Olympus adalah Olympus OM-D (E-M1 dan E-M5) dan Olympus Pen series (E-P3, E-PL5 dan E-PM2). Kekuatan Olympus ada di desain stabilizer gambar yang tertanam di sensornya, sehingga dengan lensa apapun bisa mendapat fitur peredam getar. Lensa yang didesain untuk Micro Four Thirds ini diberi nama M.Zuiko, untuk membedakan dengan lensa Olympus untuk DSLR yang bernama Zuiko (tidak ada huruf M didepannya).

Panasonic

panasonic-lumix-gf5

Seperti yang dibahas diatas, Panasonic bersatu dengan Olympus mengusung standar micro four thirds dan sudah membuat berbagai produk seperti Lumix G5, Lumix GH3, Lumix GF5 dan Lumix GX7. Desain kamera Lumix umumnya bertipe modern, beberapa menyerupai kamera DSLR dan ada juga yang agak retro. Sistem OIS di kamera Lumix ditempatkan di lensanya, walau uniknya di kamera GX7 inilah untuk kali pertama Lumix memberi stabilizer didalam sensornya. Ikut-ikutan Olympus?

Catatan : lensa kit yang kerap dipakai untuk kamera mirrorless sensor Micro Four Thirds yang punya crop factor 2x umumnya adalah 14-42mm, yang akan setara dengan lensa 28-84mm. Beberapa vendor lain sudah mulai membuat lensa-lensa untuk format micro four thirds ini, menandakan kalau mereka melihat masa depan yang baik di format ini. Panasonic berhasil membuat lensa kit 14-42mm yang cukup mungil dan tampak berimbang dengan bodi kecil seperti Lumix GF di atas. Tapi lensa zoom ini tidak bisa diputar oleh tangan, kecuali pakai tuas yang akan memutar motor zoom elektronik.

Sensor lebih kecil :

Nikon 1 (crop factor 2,7x)

nikon-V2

Nikon 1 adalah nama untuk format kamera dengan ukuran sensor 1 inci yang disebut juga dengan format CX, ukurannya lebih kecil daripada sensor Four Thirds milik Olympus, dan crop factornya adalah 2,7x. Maka itu lensa kit Nikon 1 punya fokal unik, yaitu 10-30mm (setara 27-80mm) dan jajaran produknya ada Nikon 1 seri V, seri J dan seri S. Keunggulan sensor kecil ini adalah desain lensanya yang lebih mungil, sesuai filosofi kamera mirrorless. Kekurangannya sementara ini adalah hasil fotonya agak kalah dengan yang sensor lebih besar seperti Four Thirds atau APS-C. Nikon 1 dikenal akan kinerjanya yang cepat, bisa ambil foto sampai 60 foto per detik dan auto fokusnya juga cepat.

Pentax Q (sensor sekecil kamera saku)

Pentax-Q

Walau kurang populer, Pentax Q adalah konsep miniatur paling sukses karena bisa membuat kamera dengan lensa yang terkecil, karena sensornya sangat kecil seperti kamera saku (1/2.3 inci). Keuntungan membeli Pentax Q adalah harganya yang sangat terjangkau, tapi ya hasil fotonya sangat pas-pasan. Di tanah air kamera Pentax Q kurang populer tapi saya tetap memperkenalkan untuk anda, siapa tahu berminat.

Tambahan info :

Di pojok kanan atas blog ini ada saya pasang banner yang berisi rekomendasi toko kamera yaitu tokocamzone yang bisa anda percayai untuk membeli kamera maupun aksesorinya. Tokocamzone punya cabang di ITC Fatmawati lantai 2, di Jl. Kemang Raya 49F dan di Bandung (Jl. Merdeka 1) dan bisa juga memesan secara online untuk pembeli diluar Jakarta Bandung. Dengan membeli kamera melalui tokocamzone anda sudah berpartisipasi dalam mendukung saya untuk tetap menulis artikel yang bermanfaat buat pecinta fotografi.

Advertisements

Published by

Erwin M.

Saya suka mengikuti perkembangan teknologi digital, senang jalan-jalan, memotret, menulis dan minum kopi. Pernah bekerja sebagai engineer di industri TV broadcasting, namun kini saya lebih banyak aktif di bidang fotografi khususnya mengajar kursus dan tur fotografi bersama infofotografi.com.

56 thoughts on “Yuk lebih jauh mengenal kamera mirrorless”

  1. Halo mas gaptek..saya tertarik dengan kamera mirrorless fujifilm..saya mau tanya lebih bagus mana fujifilm xm1 atau x30 ya? Saya masih bingung dengan ukuran sensornya..terima kasih sebelumnya

  2. saya mau tanya om, kalo mirrorless menggunakan lensa manual apakah memerlukan adapter?
    apa hanya beberapa lensa manual saja yg bisa digunakan pada mirrorless? kalo bisa semua lensa manual berarti keren dong mirrorless, bisa menghidupkan kejayaan lagi lensa2 manual ūüėÄ
    saya pakai sony a3500
    makasih om

    1. Setahu saya hampir semua lensa manual bisa dipasang dgn adapter, spt canon FD, M42 dsb. Tapi ya cuma bisa manual fokus aja, sehingga mirrorless yg punya fitur focus peaking akan lebih membantu. Bbrp adapter mahal ada yg bisa pasang lensa canon eos dan auto fokusnya jalan.

  3. Mas mau nanya, hasil gambar antara fujifilm xm1 dengan samsung a300 bagusan mana ya ?
    Untuk foto gelap dan street view
    Makasih

Comments are closed.