Antara inovasi dan inkonsistensi kamera buatan Sony

Saya suka kamera buatan Sony, paling tidak saya suka mengamati bagaimana Sony berinovasi dalam hal teknologi, dan selalu penasaran ingin tahu terobosan apa lagi yang bakal dilakukannya. Dulu Sony membuat saya terkesan dengan terobosan live-view di kamera DSLR dengan dual sensor, yang lalu tidak berkembang karena rumit. Lalu Sony mengenalkan translucent mirror (sempat disebut kamera SLT), yang mengatasi permasalahan auto fokus saat live-view. Kini Sony berkembang dengan jajaran mirrorless dan juga kamera translucent mirror-nya, bahkan menjadi produsen kamera mirrorless pertama yang pakai sensor full frame.

Tapi ada yang belum bisa diwujudkan oleh Sony sampai saat ini, yaitu meraih market share yang cukup banyak. Orang masih seperti belum yakin untuk memilih kamera Sony, walau dari teknologi dan value bisa dibilang menyamai bahkan melebihi pemain besar seperti merk C dan merk N. Saya prediksi alasan utamanya adalah kekuatiran jangka panjang, karena kamera sekarang (selain kamera pocket atau kamera prosumer) adalah laksana investasi membangun sebuah sistem yang berkelanjutan. Jaminan dukungan lensa, aksesori dan kamera baru untuk upgrade di masa mendatang jadi sesuatu yang perlu bagi mereka yang menjadikan fotografi sebagai hobi serius atau mata pencarian hidup.

sony_a350_live-view
Kamera Sony A350 dengan sensor live-view terpisah

Mengamati betapa mudahnya Sony memutuskan membuat sesuatu yang baru, lalu menghentikannya dan membuat yang lain, membuat saya (dan fotografer lain) harap-harap cemas akan keberlangsungan ekosistem yang sedang kita bangun. Kita simak jajaran produk kamera Sony dan fakta-faktanya (bukan opini) :

  • DSLR Sony berseri Alpha (A) yang tentunya memakai A mount, terakhir muncul pada 2010 yaitu Sony A580 (16 MP APS-C) yang speknya sudah termasuk bagus (bersaing dengan Nikon D5100), dengan sensor tambahan untuk live-view. Kamera penerusnya sampai saat ini tidak pernah ada lagi. Selamat tinggal jendela bidik optik..
  • SLT (Single Lens Translucent) Sony dibuat untuk menjadi penerus DSLR, bedanya dengan cermin tembus pandang dan cermin ini tidak bisa terangkat, sebagai perbedaan utama dengan DSLR adalah jendela bidik kamera SLT berjenis elektronik. Sony banyak membuat kamera SLT dan beberapa yang populer adalah SLT A65 dan A77 (2011), serta A99 yang sensornya full-frame (2013). Semua kamera SLT memakai A mount.
  • Sony NEX, dibuat sebagai mirrorless sensor APS-C yang segmentasinya cukup lengkap dari yang pemula seperti NEX-3, menengah NEX-5 dan canggih (NEX-6 dan NEX-7). Sebagai kamera mirrorless, Sony NEX memakai E mount yang berbeda lensa dengan A mount, pemilik lensa A mount masih bisa memasang lensanya di Sony NEX dengan menambah adapter.
  • Sony membuat keanehan dengan meluncurkan kamera APS-C mirip DSLR, dengan kembali memakai nama Alpha (A3000) tapi memakai E mount. Kamera 4 jutaan ini bukan DSLR (walau sepintas mirip), dan bukan Sony NEX (walau memakai E mount). Rupanya sejak inilah Sony mengakhiri kiprah NEX, selamat tinggal Sony NEX..
  • Re-birth dua mirrorless Sony NEX-5 dan Sony NEX-6 terlihat dari kehadiran dua kamera baru dengan nama baru A5000 dan A6000, bodi mirip, spek mirip tapi namanya pakai Alpha. Bahkan dari beberapa spek terlihat di A5000 dan A6000 ada sedikit hal yang dikurangi, misal resolusi jendela bidiknya.
  • Kamera mirrorless full frame pertama hadir dengan nama A7 dan A7R, kembali memakai nama Alpha namun dengan E mount. Ingat kalau E mount awalnya didesain untuk Sony NEX (APS-C) maka dengan kata lain E mount tidak disiapkan untuk sensor full frame. Jadi semua lensa E mount, walau memang pasti bisa dipasang di Sony A7, akan mengalami vignetting atau harus di crop. Bila tidak mau, maka nantikan lensa-lensa baru E mount yang khusus full-frame, yaitu lensa FE (yang saat ini baru ada 3 atau 4 jenis di pasaran).

Kemarin Sony mengumumkan kehadiran kamera A77 mark II, sebuah kabar baik bagi pemakai lensa A-mount, dan yang merindukan kehadiran kamera non mirrorless. Kamera SLT kelas menengah ini menyempurnakan A77 dengan 79 titik AF – 15 cross type (mengalahkan semua kamera DSLR), burst 12 fps, dan sensor APS-C 24 MP. Yang menarik, lensa kit kamera A77 mark II adalah lensa 16-50mm f/2.8 yang termasuk lensa profesional. Layar LCD lipat di A77 mark II juga unik, karena punya banyak engsel sehingga bisa diputar untuk berbagai angle seperti low angle, high angle bahkan selfie yang lagi tren.

Tampak depan A77 mark II :

a77-II_front-1200

Tampak belakang A77 mark II (posisi LCD sedang tidak dilipat keluar) :

a77-II_rear-1200

Lalu ada sedikit kabar baik bagi yang tertarik atau sudah punya kamera Sony A7 (mirrorless full frame), kabarnya Sony akan meluncurkan dua lensa FE lagi yaitu lensa ultra wide Zeiss 16-35mm f/4 ZA OSS dan 28-135mm f/4 OSS power zoom (cocok untuk video). Menurut saya semestinya inilah yang harus terus dilakukan Sony supaya tetap mendapat kepercayaan dari pasar, yaitu terus berinovasi dan konsisten dalam produksinya.

Published by

Erwin M.

Saya suka mengikuti perkembangan teknologi digital, senang jalan-jalan, memotret, menulis dan minum kopi. Pernah bekerja sebagai engineer di industri TV broadcasting, namun kini saya lebih banyak aktif di bidang fotografi khususnya mengajar kursus dan tur fotografi bersama infofotografi.com.