DSLR terus terdesak oleh mirrorless, apa strategi Canon dan Nikon?

Memang sampai saat ini kamera DSLR masih memimpin penjualan dan juga pengguna, alasannya karena DSLR adalah hasil evolusi dari kamera SLR film, dan juga pilihan lensanya banyak. Dua merk yang identik dengan kamera DSLR yaitu Canon dan Nikon pun tetap bersaing hingga kini, lalu diikuti dengan Pentax dan Sony. Tapi mereka perlahan tapi pasti terus ditekan oleh kamera mirrorless. Dulu orang beli DSLR untuk mengejar kualitas hasil foto karena kamera saku sampai prosumer hasil fotonya kurang baik. Hampir semua orang yang sudah beli DSLR akan puas dengan hasil fotonya, tapi sebagian daripadanya tetap mengeluhkan akan bobot dan ukurannya yang bikin repot. Disinilah kamera mirrorless bisa mencuri celah, dengan hasil foto yang relatif sama baiknya dengan DSLR, pemakainya dapat keuntungan dari ukuran yang kecil. Kira-kira 80% kebutuhan fotografi itu bisa dilakukan dengan kamera mirrorless asal lensanya sesuai.

Saya temui memang kamera DSLR secara teknis bakal sulit untuk berkembang. Fitur yang ada sekarang sudah tampak sulit untuk ditingkatkan lagi, salah satunya karena terlalu banyak mekanik yang bekerja di dalam kamera DSLR. Terlebih produsen seperti Canon dan Nikon tampak nyaman dengan posisi mereka saat ini dimana mereka masih mendominasi penjualan. Tapi orang kan menantikan peningkatan signifikan dari setiap produk yang dilahirkan. Terlihat sekali produk-produk baru (Canon : EOS 700D 70D, 6D, Nikon : D5300, D610, D810 dsb) seperti tidak banyak beda dibanding pendahulunya. Canon dan Nikon terjebak untuk menaikkan hal-hal yang terukur seperti megapiksel, ISO maksimum, burst, titik AF, titik metering dsb dan kadang disertai dengan naiknya bandrol harga. Di sisi lain produsen mirrorless berupaya mencari alternatif yang jarang dikembangkan oleh kamera DSLR, seperti hybrid AF, layar LCD bisa selfie, dukungan OS maupun aplikasi, silent/electronic shutter dan sebagainya.

Canon dan Nikon harus punya strategi tepat, bila tidak mau pangsa pasarnya semakin berkurang akibat orang beralih ke mirrorless. Jangan sampai nantinya yang beli DSLR hanya orang-orang tua yang sudah punya banyak lensa dan mereka ‘terpaksa’ beli DSLR baru supaya lensanya tetap bisa dipakai.

Strategi yang tepat menurut saya salah satunya adalah membuat kamera yang tepat dan sesuai harapan calon pembelinya. Di ajang Photokina minggu depan, Canon diyakini akan meluncurkan EOS 7D mark II (yang sudah lama ditunggu-tunggu) sebagai rajanya DSLR APS-C, sedangkan Nikon juga hampir pasti akan meluncurkan D750, kamera DSLR full frame yang juga lama dinantikan sebagai ‘the real D700 replacement’. Tinggal kita lihat apakah diatas kertas fitur yang ditawarkan akan menarik, sehingga bisa meraih lagi kejayaan mereka seperti saat tahun-tahun yang lalu.

Update :

Nikon sudah meluncurkan D750 (25 juta) sebagai DSLR full frame 24 MP, si pekerja cepat yang punya 51 titik AF. Di waktu yang hampir bersamaan Canon juga membuat EOS 7D mk II (21 juta) yang menjadi DSLR APS-C termahal, sensornya 20 MP dengan 65 titik AF dan 10 fps.

Advertisements

Published by

Erwin M.

Saya suka mengikuti perkembangan teknologi digital, senang jalan-jalan, memotret, menulis dan minum kopi. Pernah bekerja sebagai engineer di industri TV broadcasting, namun kini saya lebih banyak aktif di bidang fotografi khususnya mengajar kursus dan tur fotografi bersama infofotografi.com.

One thought on “DSLR terus terdesak oleh mirrorless, apa strategi Canon dan Nikon?”

Comments are closed.