Mencari kamera yang ideal atau sempurna?

Mana yang anda cari : kamera yang ideal atau yang sempurna? Sepintas sepertinya mirip ya, tapi beda banget. Ideal itu berbeda-beda tiap orang. Bagi saya, kamera ideal itu ya yang masih termasuk kecil (tidak besar dan berat), hasil fotonya bagus, kinerja cepat, bodi tangguh dan sukur-sukur tidak mahal, hehe..

DSLR ideal menurut saya : kecil, terjangkau, 24 MP, 19 titik AF, 5 fps, layar lipat sentuh, ada LCD kecil, ada dua roda kendali, hybrid AF di live view dan WiFi. Saya tidak peduli kalaupun kamera ideal ini 'cuma' APS-C atau 'cuma' kamera pemula.
DSLR ideal menurut saya : kecil, terjangkau, sudah 24 MP, 19 titik AF all cross type, 5 fps, layar lipat sentuh, bisa wireless flash, ada LCD kecil, ada dua roda kendali, hybrid AF di live view dan WiFi. Saya tidak peduli kalaupun kamera ideal versi saya ini ‘cuma’ pakai sensor APS-C atau ‘cuma’ tergolong kamera pemula.

Lebih spesifik lagi, kita masih bisa rinci lebih detil prasyarat kamera ideal. Misalnya sensornya mau yang seperti apa (full frame/APS-C) dan berapa mega piksel, auto fokusnya mau yang secanggih apa dsb. Semakin banyak persyaratan ya makin sulit kita menemukan kamera yang ideal. Kalaupun ada mungkin harganya jadi mahal. Tinggal kita menuliskan kandidat beberapa kamera ideal yang ada dan memilih sesuai budget dan pertimbangan lain (ekosistem, lensa, after sales dsb).

Kamera Mirrorless ideal menurut saya : hasil foto, ergonomi, tombol, kemudahan, kinerja dan harga.
Kamera Mirrorless ideal menurut saya : hasil foto terbaik, bodi tahan cuaca, ergonomi mantap, tombol lengkap, viewfinder jernih, layar Amoled, kemudahan pemakaian, kinerja cepat dan harga yang wajar. Termasuk DSLR killer lho..

Kamera ideal bukanlah kamera yang sempurna. Bagi saya kamera yang sempurna itu hasil foto bagus banget, seperti aslinya kita lihat. Misal detil, dynamic range, akurasi warna, sistem AF yang cepat dan jitu. Kenapa tidak ada kamera sempurna? Ada dua alasan, pertama dari sisi produsen enggan menghabiskan anggaran untuk riset besar-besaran dalam rangka membuat kamera sempurna. Mereka lebih nyaman mempertahankan standar yang ada, ditingkatkan secara minor dan dijual lebih mahal. Misal, sensor gambar masih memakai sistem Bayer CFA sampai saat ini, yang jelas-jelas menjadi penyebab hasil foto kurang baik. Kenapa? Karena murah, dibanding dengan membuat sensor baru seperti Foveon atau yang lain. Paling megapikselnya saja yang ditingkatkan, supaya tetap laku dijual.

Beginilah kamera kita menangkap warna. Setiap piksel hanya melihat satu warna (RGB) lalu kamera menebak warna aslinya dari interpolasi piksel tetangga. Maka itu hasil foto tidak pernah bisa sempurna. Diperlukan sensor modern yang mahal untuk membuat foto yang sempurna, tapi produsen mana yang mau repot?
Beginilah kamera kita menangkap warna. Setiap piksel hanya melihat satu warna (RGB) lalu kamera menebak warna aslinya dari interpolasi piksel tetangga. Maka itu hasil foto tidak pernah bisa sempurna. Diperlukan sensor modern yang mahal untuk membuat foto yang sempurna, tapi produsen mana yang mau repot?

Alasan kedua, karena ketidaksempurnaan kamera memaksa kita untuk lebih berpikir saat memotret. Kalau kamera sempurna, nanti kita cenderung asal jepret hasilnya sudah pasti bagus. Tidak ada proses pemikiran disana, dan tidak ada pembelajaran. Ketidaksempurnaan kamera memaksa kita memikirkan pencahayaan sebelum memotret, mengamati histogram, menentukan prioritas dan kompromi saat mengatur shutter/bukaan/ISO, melakukan teknik yang benar (pakai tripod, aksesori filter, flash dsb) dan mempelajari teknik fotografi dan editing.

Foto ini diambil pakai kamera pemula Samsung NX3000. Dalam pencahayaan sulit, pemahaman setting kamera diperlukan, pakai RAW dan lakukan editing dengan tepat. Kalau kamera sempurna, ketemu tempat ini saya tinggal jepret aja langsung bagus.
Foto ini diambil pakai kamera pemula Samsung NX3000. Dalam pencahayaan sulit, pemahaman setting kamera diperlukan, pakai RAW dan lakukan editing dengan tepat. Kalau kamera sempurna, ketemu tempat ini saya tinggal jepret aja langsung bagus.

Bagi yang mau belajar fotografi, saya mengajar beberapa kelas seperti kelas mengenal kamera digital (buat pemula) dan kelas Mastering teknik fotografi (buat yang sudah mengerti kamera dan dasar fotografi). Cek jadwalnya disini ya..

Published by

Erwin M.

Saya suka mengikuti perkembangan teknologi digital, senang jalan-jalan, memotret, menulis dan minum kopi. Pernah bekerja sebagai engineer di industri TV broadcasting, namun kini saya lebih banyak aktif di bidang fotografi khususnya mengajar kursus dan tur fotografi bersama infofotografi.com.

15 thoughts on “Mencari kamera yang ideal atau sempurna?”

  1. Mas Erwin Saya mau beli dslr nikon tapi bingung memilih antara nikon d5200,d5300,d5500.
    apakah benar yang dikatakan kenrockweel pada nikon d5500 “High ISO performance is spectacular” awalnya saya ingin mengambil d5200 tapi setelah membaca review tersebut saya jadi tambah bingung,berbedakah kemampuan iso dan fiturnya pada ketiga kamera tersebut.
    Terimakasih

    1. D5500 memang punya ISO tinggi yg lbh bersih, banyak yg bilang karena sensornya pake Sony, bukan Toshiba lagi. Bagi saya D5200 itu best buy karena udah murah, tapi D5300 itu tanggung krn nambah dikit dpt D5500 yg juga layar sentuh.

      1. Memang sih nikon d5200 best buy, tapi saya lihat di l*z*d* nikon 5300 7jutaan garansi distributor. apakah aman membeli kamera dengan garansi distributor. dan sisanya untuk FIX lens. apakah kemampuan iso antara 5300 dan 5500 sangat berbeda pada 6400. soalnya saya akan sering menggunakan iso tinggi.
        Terimakasih

        1. Aman tidaknya sulit sekali diprediksi karena alat kan gak tau kapan dia tiba2 bermasalah. Bedanya antara 5300 dan 5500 bisa coba cari di review luar, cuma ISO 6400 itu pada dasarnya diluar rentang ISO normal utk APS-C jadi don’t expect miracle.

        2. Mas Totong, saya juga lagi dalam posisi cari2 kamera Nikon bbrp hari yg lalu. Antara D5200, D5300 dan D5500… akhir nya setelah di timbang2….. saya beli ke D7100 kit 18-105 mm…. harga dgn garansi distributor sekitar 12 jutaan…. kalau ada budget lebih …tadinya mau ke kit 18-140mm….. lebih asik D7100 kalau menurut saya krn semakin pro… semakin iso nya ngak tinggi2 mas… hehehe…

  2. Mas gaptek saya lagi nyari kamera, bingung pilh sony a6000 atau samsng nx 500,
    antara samsung nx500 dan nx 300 dan a6000 apakah signifikan berbeda dalam handle noise dan kecepatan af, dan untuk lensa fix samsung dengan harga lumayan terjangkau f/besar apa ya.
    Terimakasih

    1. NX500 mestinya setara NX1 dlm hal hasil foto dan kinerja ISO/noise. Kalau NX500 dibanding A6000 boleh dibilang kinerja AFnya setara karena sama2 hybrid AF.

  3. mas Erwin…
    saya mau tanya beda kamera Canon 700D sama Canon Kiss X5 apa?
    lebih unggul yang mana?
    kalau boleh minta sarannya, bagus ambil yang mana?
    saya masih pemula..
    terimakasih..

  4. Mas gaptek saya mau tanya, apa ada perbedaan antara sensor nikon buatan sony dan toshiba, apakah ada Rahasia Desain dalam keduanya untuk handle noise dan DR.
    Terimakasih

    1. Kabarnya sih yg buatan Sony hasil fotonya lebih bagus di ISO tinggi. Rahasia desain sensor sih mestinya tidak ada ya, karena kan pakai teknologi sama CMOS dan Bayer CFA, apalagi dengan megapiksel dan ukuran sensor yg sama. Tapi proses manfaktur tiap produsen kan beda-beda seperti pemilihan material, mesin produksi dan SDM/insinyurnya. Catatan saja, beda lagi kalau sudah pakai teknologi CMOS seperti X trans (Fuji), CMOS BSI (Samsung) atau LiveMOS (Olympus/Panasonic).

Any comment or question?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s