DSLR dulu, sekarang dan nanti (analisa dan prediksi)

Kamera DSLR saat ini sepertinya masih jadi incaran utama fotografer dan penghobi foto, selain tentu kini mulai ada juga pilihan kamera selain DSLR bahkan termasuk ponsel cerdas yang semakin baik hasil fotonya. Walau begitu saya melihat situasinya agak berbeda antara sekarang dengan dulu masa-masa DSLR menjadi kamera primadona setiap orang.

Coba lihat fakta-fakta kamera DSLR berikut ini :

  • produk baru terus keluar, walau produk lama sebetulnya masih sangat baik spek dan fiturnya
  • semakin sedikit peningkatan yang didapat dari DSLR terbaru, karena desain DSLR memang evolusi dari kamera film konvensional (cermin, prisma, shutter mekanik dsb) update : duo DSLR termurah Canon 1300D dan Nikon D3400 sudah muncul, dengan sedikit sekali peningkatan di banding produk sebelumnya
  • harga DSLR terbaru semakin naik, juga disokong tidak berdayanya rupiah kita terhadap dolar (1$ = Rp. 13.500 saat tulisan ini dibuat)

Saya pikir hal ini membawa dampak kurang baik bagi kedua belah pihak, konsumen dan produsen. Bagi konsumen, harga DSLR pemula terbaru saat ini bahkan bisa mencapai 9 juta (kit) atau 8 juta (bodi saja). Kalau dana tidak mencukupi, konsumen terpaksa melirik produk lama (generasi 2-4 tahun kebelakang) dan umumnya bisa ditebus seharga 6 jutaan.

70D vs 760D
70D bersanding dengan 760D, banyak kemiripan fitur, bahkan beberapa diantara fitur 760D justru lebih modern dari 70D.

Bagi produsen (Canon dan Nikon khususnya), tekanan dari kamera mirrorless dan kamera ponsel juga terus mengganggu market share mereka. Tapi terlepas dari itu, saya mau menunjukkan betapa pusingnya pihak produsen menentukan harga jual produk-produknya di pasaran :

  • Canon 760D sudah ada, harga 8,2 juta bodi saja (bersamaan dengan 750D seharga 7,5 juta). Tentu Canon berharap kedua Rebel baru ini akan laris manis, tapi disaat yang sama 700D dijual 6 jutaan saja. Alih-alih fokus menjual yang baru, produk lama bahkan sampai 600D pun masih banyak dijual di toko. Bahkan 60D pun masih diminati sampai sekarang, dan banyaknya pilihan di kisaran harga yang sama ini bakal membingungkan buat pembeli juga.
  • Nikon D5500 kit juga sudah hadir, harga 9,15 juta, dan terpaut 100 ribu saja dengan D5300 kit. Aneh? Ya logikanya siapa yang mau ambil D5300 kalau begitu (bedanya lumayan banyak, termasuk ada layar sentuh). Tapi baik D5300 dan D5500 menurut saya kemahalan untuk DSLR pemula, dulu saya beli D5100 saja 5-6 jutaan. Saat ini anggap anggaran yang ada adalah sama yaitu 5-6 jutaan, maka kita cuma bisa dapat D5200 saja. Harga 9 juta itu mendekati angka psikologis 10 juta, dan disitu sudah mendekati D7100 (bodi saja) sudah bisa dibeli dengan 12 juta.

Analisa dan prediksi saya (serta sumbang saran)

Saya bukan ahli ekonomi, tapi saya yakin kapitalisme ekonomi dan modernisasi industri telah membuat dilema tersendiri bagi produsen apapun, tak terkecuali kamera khususnya DSLR. Untuk terus profit, agar pabrik bisa terus beroperasi, supaya karyawannya bisa terus digaji, maka produk baru bakal terus dibuat. Di lain pihak, orang mungkin merasa berat dengan harga yang terus naik disaat produk baru lahir, atau mereka sudah puas dengan produk lama yang sudah dipunyai, atau membeli produk lawas yang masih ada stok. Mengurangi suplai mungkin bukan jadi solusi, tapi memang saya pikir semestinya hadirnya produk baru jangan terlalu sering dan terlalu dekat.

Lihatlah contoh upgrade Canon 60D ke 70D, cukup lama kan (dan belum jelas kapan ada 80D misalnya) update : 80D sudah keluar. Ini contoh yang lebih baik, daripada 600D masih laku, lalu bikin 650D, lalu 700D, yang masih banyak miripnya. Untungnya ada 750/760D yang lumayan banyak pembenahan. Jadi produk seperti 600D dan 700D mungkin tidak perlu ada, harusnya setelah 550D lalu 650D lalu 750D.

nikon-dslr-lineup-nov-2012
Ini tabel segmentasi Nikon tahun 2012, tapi semua produk lama ini masih dijual sampai sekarang.

Setiap produk baru lahir, harga jualnya juga makin naik (sialnya parahnya lagi kurs lokal makin lemah), plus sudah terlanjur banyak pilihan produk di kisaran harga yang sama tentu membingungkan, ditambah tren saat ini yang perlahan bergeser ke mirrorless, dan mungkin ada unsur pelemahan ekonomi domestik global juga, kesemuanya adalah multi faktor yang saya lihat menghantui penjualan DSLR saat ini. Walau demikian saya yakin para pembeli kamera DSLR kedepannya akan selalu tetap ada. Hanya saja prediksi saya yang beli bukan lagi semua kalangan seperti dulu, tapi akan lebih terfokus pada fotografer yang tetap perlu DSLR (mungkin karena sudah terbiasa atau karena sudah punya banyak lensa).

Saran saya bagi pihak produsen DSLR, buatlah terobosan dan bila perlu tinggalkan zona nyaman, harus mau berubah untuk bisa terus bertahan :

  • perbaiki skema harga, segmen pemula adalah penyumbang share terbesar, kalau dijual mahal pasti peminat berkurang
  • bikin teknologi baru yang tidak begitu-begitu lagi, R&D memang mahal, tapi kalian pasti punya anggaran untuk itu
  • jangan pelit peningkatan firmware
  • segmentasi yang jelas, mungkin APS-C untuk amatir/hobi, dan full frame untuk semi pro/profesional, tidak perlu overlap segmentasi produk (banyak yang bingung bedanya Canon 5D, 6D dan 7D)
  • mengurangi/menghapus produk yang tidak perlu ada, karena selain membingungkan, juga mengacaukan skema harga (update 2016 : Panasonic menghapus lini GF dan GM di kamera Lumix mirrorless-nya sebagai langkah penyederhanaan segmentasi produk)
  • mulai membuat kamera mirrorless yang setara dengan pesaing (Sony, Fuji, Samsung, bahkan Olympus dan Panasonic punya mirrorless yang keren-keren)

Pembaca juga boleh sumbang saran, siapa tahu tulisannya dibaca petinggi Canon/Nikon Jepang, mungkin saja kan..

Advertisements

Published by

Erwin M.

Saya suka mengikuti perkembangan teknologi digital, senang jalan-jalan, memotret, menulis dan minum kopi. Pernah bekerja sebagai engineer di industri TV broadcasting, namun kini saya lebih banyak aktif di bidang fotografi khususnya mengajar kursus dan tur fotografi bersama infofotografi.com.

17 thoughts on “DSLR dulu, sekarang dan nanti (analisa dan prediksi)”

  1. maaf sebelumnya sedikit melenceng. saya mau tanya, apakah sony a6000 dan fujifilm x-m1 sudah bisa dipasang flash external merk youngnuo? Terima kasih

  2. Mas erwin untuk sensor aps-c 18mp dengan 24 mp apakah ada peningkatan rentang dinamis dan noise di iso tinggi.terimakasih

    1. Piksel makin banyak, secara teori DR menurun dan noise di ISO tinggi justru semakin banyak. Tapi hebatnya teknologi modern bisa mencegah itu terjadi. Khusus sensor samsung yg 28 MP (APS-C) dan sony A7R mk II yg 43 MP (full frame) bisa jaga performa ISO karena pakai teknologi BSI CMOS.

  3. apakah dengan kehadiran kamera mirrorless yang teknologinya makin canggih dan berat kamera yg ringan,kamera DSLR akan ditinggalkan?

    1. Sampai saat ini, sebagian besar kamera mirrorless belum bisa menggantikan fitur dan kelengkapan aksesoris sistem kamera DSLR, makanya masih banyak fotografer profesional, dan fotografer amatir serius yang membutuhkan.

      Di masa depan, kemungkinan kamera mirrorless akan semakin diminati karena teknologinya makin maju, dan peminat kamera DSLR itu akan berkurang dibandingkan sekarang.

      Tapi saya pikir kamera DSLR tetap akan eksis, karena ada hal yang tidak bisa ditiru di kamera mirrorless yaitu jendela bidik optik, yang membuat fotografer bisa melihat secara langsung apa yang terjadi di depan kamera.

  4. Biasanya.. orang2 “profesional” dan “pehobi amatir serius” (yang banyak duit) pura2 “bertahan” memuji2 DSLR, sama seperti dulu “bertahan” pada teknik manual fotografi film. Sama halnya seperti orang2 “berkuping emas” yang “bertahan” mendengarkan vinyl (plat) dengan ampli tabung.

    Padahal sebenarnya diam2 mereka itu yang paling cepat membeli teknologi baru, sambil masih memuji DSLR.

    Soal jendela bidik optik, apalah bedanya, sekarang jendela bidik elektronik sudah hampir sempurna. Bukankah fotografi itu dilihat HASIL FOTONYA.?

    Yang dari dulu memprihatinkan, peralatan berkembang pesat, semua orang bisa beli, tapi yang namanya fotografi SENI tidak pernah berkembang, sementara fotografi komersial berkembang pesat (dengan pengolahan Photoshop bajakan).

  5. Yap, saya setuju dengan artikel ini
    terutama mengenai ” semakin sedikit peningkatan yang didapat dari DSLR terbaru ”
    ketika masih punya D90 saya menginginkan Upgrade yg signifikan, dan itu terjawab dengan dengan D7000
    setelahnya, dari D7000 saya banyak menimbang2 apakah Worthed kalo upgrade ke D7100
    kebetulan di saat yg sama, teman sudah ada yg pake D7100, saya bandingkan dengan D7000 saya ( dengan konfigurasi lensa yg sama ), ternyata hasil ( Image Quality ) tidak jauh berbeda
    begitupun dengan D7200
    alhasil Loncatan Upgrade, lebih baik ke Full Frame sekalian, dan saya sangat puas dengan D750

    saya berpendapat, Pengembangan DSLR sudah berada di titik stagnan, yg terus di gembor2 upgrade kebanyakan dari sisi resolusi

    mungkin sudah saatnya DSLR berevolusi

    #CMIIW

  6. Tema artikelnya menarik. 🙂
    Kalau boleh saya beri masukan sedikit mengenai kata penulisan nya. Ada kalimat seperti ini :
    “Setiap produk baru lahir, harga jualnya juga makin naik (sialnya lagi kurs lokal makin lemah)”

    Kata “sialnya” di sini mungkin bisa di ganti dengan kata yang lebih sopan lagi, mungkin “parahnya”.

    Demikian masukan dari saya. Terima kasih.

  7. Selamat kepada teman-teman yang telah migrasi ke mirrorless. Mungkin saya akan kesana suatu saat. Tapi sampai sekarang dan minimal tahun 2015 ini, masih akan lebih senang pakai DSLR.

  8. Ulasanya Mantap. Saya ni pemula. punya canon 700D. Tp stlah baca ulasan ni. Jd agak binggung. Mau ttp upgrade kamera dslr or ganti mirrorless. Mungkin 2016 akn ad terobosan baru. Sekarang pakai yg ad dulu sj. Ok.

  9. Mas, kira2 lbh baik mna antra nikon d5500 atau sony a6000. Budget krg lbh 9jt. Sy suka foto2 landscape, buat traveling, hobby sih juga. Kra2 bsa mndukung lah untuk lbh serius.

  10. Untuk amatir seperti saya… sistem apapun tidak masalah selama tetap bisa senang2 dan menghasilkan karya..
    Sampai saat ini gear saya cuma sony dsc-h300 dan nikon d3200…

Any comment or question?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s