Jalan-jalan singkat ke Focus Expo 2014 di JCC

Tadi sore pulang kerja, saya sempatkan mampir ke pameran tahunan Focus Expo 2014 di JCC Senayan. Seperti tahun-tahun sebelumnya, pameran ini juga berbarengan dengan pameran komputer juga. Tujuan saya kali ini tentu ingin melihat langsung kamera-kamera baru yang biasanya boleh dicoba atau minimal dipegang-pegang :)

Jadilah acara jalan-jalan singkat ke Focus kali ini seperti acara hands-on preview, alias mencoba beberapa kamera baru secara singkat saja.

aP1000398

Pengunjung menikmati galeri foto di area depan

aP1000395

Pengunjung lainnya menatap iklan Nikon Df

aP1000411

Stan Nikon, terlihat di belakangnya ada stan Fuji dan Canon. Di sampingnya lagi (tidak terlihat di foto) ada stan Sony dan Samsung.

aP1000412

Ada pembicarayang sedang membahas menu kamera di stan Nikon. Continue reading

Video 4K tebar ancaman untuk masa depan fotografi?

Apa itu video 4K? Gampangnya video 4K adalah video dengan resolusi sangat tinggi yang mampu merekam video resolusi 4x lebih detil dari video HD biasa, atau disebut juga dengan Ultra HD (UHD). Dalam hitungan piksel, maka bidang gambar dari video ini adalah 3840×2160 piksel (setara dengan foto 8 MP) yang melebar dengan aspek rasio 16:9. Beberapa kamera baru seperti Panasonic Lumix GH4, handycam Sony  FCR-AX1, JVC GY-HMQ10 dan baru-baru ini ponsel Samsung Galaxy S5 sudah bisa merekam video UHD. Video 4K itu punya data rate yang sangat tinggi, sehingga dalam waktu singkat bisa jadi kartu memori yang kita pasang langsung terisi penuh. Itupun dengan catatan kartu memori yang dipakai harus yang punya kecepatan baca tulis sangat tinggi, misal kartu SD berlogo UHS-1. Untuk melihat hasil videonya dengan optimal diperlukan TV yang juga memenuhi standar 4K, itupun diperlukan kabel HDMI generasi kedua yang mampu menampung bandwidth hingga 18 Gbps, video 3840×2160 piksel 60 fps tidak terkompres, 32 kanal audio dan dengan bentuk konektor yang sama dengan HDMI biasa.

Video 4K hadir karena masih banyak orang yang kurang puas dengan kualitas video full HD. Lucu ya, padahal kita saja masih kesulitan untuk bisa menikmati video full HD seperti yang semestinya (misal sulitnya mencari materi film blu ray, siaran TV kabel atau satelit HD). Tapi di luar negeri sana tayangan full HD sudah jadi hal yang umum dan karena orang selalu tidak pernah puas maka mereka menuntut peningkatan dari full HD, maka hadirlah era video 4K ini. Untuk mengetahui kehebatan video 4K ini, bayangkan bahwa setiap satu detik sensor kamera itu akan memberikan keluaran gambar yang resolusinya 8 MP sebanyak 25 gambar, dalam aspek rasio 16:9. Ingat, walau aspek rasionya 16:9, kita tetap saja bicara bidang gambar 8 MP, atau 8 juta piksel !! Kan sama saja dengan kita punya kamera foto yang sensornya 8 MP, lalu anggap kameranya bisa memotret kontinu secepat 25 fps. Soal ketajaman videonya jangan ditanya, kita bisa hadirkan tayangan bergerak yang sangat detil hingga membuat bioskop mini di rumah dengan video 4K. Ilustrasi di bawah ini memberi gambaran bedanya piksel di Full HD (1920×1080) dengan Ultra HD (2840×2160). Bahasa gaulnya, full HD sih lewat..

Tapi saya sedang tidak ingin membahas sisi video dari era 4K. Di artikel ini saya justru mau menyoroti soal ancaman video 4K terhadap masa depan fotografi. Di atas sudah saya ulas bahwa dalam satu detiknya, video 4K itu dapat menghasilkan setidaknya 25 frame gambar dengan resolusi 8 MP yang kualitasnya baik. Bayangkan, 25 frame (foto) dengan resolusi 8 MP dihasilkan setiap detiknya. Dari video itu kan kita tinggal memilih frame mana saja yang mau kita jadikan still image, dan didapatlah banyak foto 8 MP sesuai keinginan kita. Artinya secara teori jadi tidak perlu lagi kita memotret foto bila sudah bisa merekam video 4K. Cukup rekam video beberapa detik, pilih frame mana yang paling oke untuk dijadikan foto dan viola.. kita bisa punya foto 8 MP yang diambil dari video tadi. Itulah kenapa masa depan fotografi bisa jadi terancam dengan hadirnya era video 4K, dan era mendatang misal 8K dan seterusnya. Menurut saya, foto dengan resolusi 8 MP sudah sangat cukup untuk kebutuhan biasa, hingga dicetak ukuran sedang. Dulu kamera digital yang bisa mencapai resolusi 8 MP adalah kamera kelas mahal, saya dulu bahkan punya beberapa kamera yang megapikselnya cuma 2 hingga 4 MP saja.

ultra-hd

Bahkan di era full HD saat ini, yang resolusinya 1920×1080 piksel (setara dengan foto 2 MP) saya bisa mengambil beberapa still image dari rekaman video dan hasilnya (walau hanya 2 MP) masih layak untuk di post di internet atau untuk dokumentasi biasa (ingat resolusi monitor umumnya hanya 1280×768 piksel) seperti contoh foto bawah ini. Masih cukup layak kan..? Apalagi kalau saya merekam pakai video 4K, bayangkan detil foto yang bisa didapat saat saya ambil satu frame dari video tersebut. Continue reading

MWC 2014 : Samsung Galaxy S5, Blackberry Z3 Jakarta, Nokia Android dll

Ajang Mobile World Congress 2014 tentu identik sama keluarnya ponsel-ponsel baru. Lalu apa yang menarik dari ajang MWC 2014 kali ini menurut saya? Pertama adalah sulitnya Samsung keluar dari desain yang itu-itu lagi, hingga diledek menjadi ‘Samesung’ oleh kompetitornya saat meluncurkan Galaxy S5 yang berlayar 5,1 inci ini. Padahal walau desainnya masih sama, tapi diklaim sudah tahan air dengan sertifikat IP67 dan fitur baru seperti deteksi sidik jari, video resolusi UHD 3840 x 2160 dan kamera 16 MP.

Samsung Galaxy S5

Hal menarik juga terjadi saat Blackberry mengumumkan hadirnya ponsel Z3 Jakarta dengan layar 5 inci qHD, 1,2 GHz dual core Snapdragon, 1,5 GB RAM dan kamera 5 MP. Perangkat ini sekaligus sebagai ponsel pertama BlackBerry yang dibuat di pabrik Foxconn.

BB Z3 Jakarta

“Kami sangat antusias memperkenalkan perangkat baru BlackBerry Z3, smartphone pertama yang lahir dari kemitraan strategis kami dengan Foxconn, yang telah diumumkan pertengahan Desember 2013,” kata John Chen, Executive Chairman dan CEO Blackberry. “BlackBerry Z3 mewujudkan semua yang ditawarkan BlackBerry 10, dengan fitur-fitur produktifitas yang luar biasa dan komunikasi yang handal, dalam desain bergaya dan all-touch yang dibuat terjangkau untuk pelanggan di Indonesia,” tambahnya.

Nokia X

Nokia juga memenuhi janjinya untuk membuat ponsel Android walau tak disupport oleh Google, sehingga tidak ada Play Store dan Gmail terintegrasi. Ponsel low end berlayar 4 inci dengan fitur setara ponsel Cina ini harganya dibawah 2 jutaan, dengan dua varian yaitu Nokia X (RAM 512 MB), Nokia X+ (RAM 768 MB). Prosesornya cukup lumayan dengan dual core Snapdragon , 3 MP kamera dan baterai 1500 mAh. Lumayan..

Selain itu, ada juga ponsel dari vendor lain seperti LG G Pro 2, HTC Desire dan lainnya.

Canon 700D vs Nikon D5300 : Duel DSLR pemula 8 jutaan

Waktunya duel Canon vs Nikon lagi, walau sayangnya disaat dolar lagi tinggi. Dulunya, DSLR pemula dijual di kisaran 6 jutaan, tapi kini ya kira-kira jadi 8 jutaan akibat kurs 12 ribuan per dolar. Kabar baiknya, DSLR pemula generasi sekarang sudah sangat baik dalam hal fitur, jadi rasa-rasanya tidak masalah kalau ‘ditebus’ dengan mahar 8 juta lebih. Inilah dua kamera DSLR terbaik yang masih bisa dibeli dengan bandrol dibawah 10 juta, kecuali kalau anda memasukkan kamera lama dalam daftar belanjaan. Canon EOS 700D ditantang oleh Nikon D5300..

Sebelum mulai..

Ciri kamera DSLR pemula adalah harga terjangkau tapi fiturnya cukup lengkap, plus sensornya sudah APS-C. Itu mengapa banyak orang yang lebih memilih beli DSLR pemula. Tapi di lain pihak, ukurannya yang kecil, bodinya yang berbahan plastik, kecepatan tembak yang ‘hanya’ sekitar 5 fps, tanpa LCD tambahan, hanya ada satu roda dial dan prisma yang murah bisa membuat sebagian orang lain menjauh dan mencari DSLR kelas menengah. Faktanya adalah, DSLR menengah terbaru dari Canon dan Nikon paling tidak sudah diatas 10 juta, seperti EOS 70D atau Nikon D7100, sehingga pilihannya jadi agak sulit. Tapi sudahlah, kita lanjutkan meninjau komparasi Canon 700D dan Nikon D5300 ya.. Continue reading