Shopping guide kamera digital harga 5-15 jutaan

Selama ini saya sering mendapat pertanyaan tentang kamera apa yang sebaiknya dibeli, dan untuk menjawabnya saya sudah tuliskan dengan lengkap di artikel ini. Intinya, salah satu faktor penentu pilihan tentu saja adalah budget yang anda punyai. Bicara soal budget tentu menentukan segmen kamera yang bisa dibeli, mulai dari kelas basic (pemula) hingga semi canggih. Biasanya calon pembeli kamera pemula akan menganggarkan antara 5 hingga 15 juta rupiah, diatas itu masih banyak pilihan tapi umumnya ditujukan untuk kalangan profesional.

Disini saya hanya membuat daftar pilihan kamera yang bisa anda beli berdasarkan kelompok harga, supaya fair dan mudah memilihnya. Untuk setiap kelompok saya pilihkan beberapa kamera yang menurut saya bisa direkomendasikan, lalu diberi label BESTBUY (paling direkomendasikan), Alternatif 1 (direkomendasikan) dan Alternatif 2 (cukup direkomendasikan). Kamera yang menyandang predikat BESTBUY adalah kamera yang saya anggap punya value tinggi, artinya harga dan fiturnya seimbang. Produk yang saya labeli Alternatif 1 artinya juga direkomendasikan karena fiturnya, atau karena harganya. Alternatif 2 bukan berarti kamera tersebut tidak disarankan, bahkan mereka juga masuk dalam nominasi saya, tapi ada hal-hal tertentu yang membuatnya ‘kalah bersaing’ untuk menempati posisi Alternatif 1.

Kita mulai saja, inilah daftar belanja kamera digital yang saya buat untuk penghujung tahun 2014:

Kelompok kamera 5-7 jutaan :

nikon-d5200
Nikon D5200, kamera DSLR dengan sensor APS-C 24 MP, 5 fps, layar lipat, 39 titik AF, full HD bisa didapat seharga 6 jutaan
  • BESTBUY : Nikon D5200 kit 18-55mm (6 jutaan)
  • Alternatif 1 : Canon 700D kit 18-55mm (7 jutaan), Nikon D3200 (5 jutaan), Samsung NX3000 kit 16-50mm (6 juta)
  • Alternatif 2 : Canon 1200D/600D kit 18-55mm (5 jutaan), Nikon D3300 kit 18-55mm (6,5 juta), Lumix GF6 atau Olympus E-PL6 kit 14-42mm (5 jutaan)

 Kelompok kamera 8-11 jutaan :

Alpha6000
Kamera mirrorless APS-C 24 MP, hybrid AF (179 titik deteksi fasa), bisa 11 fps, layar lipat, jendela bidik elektronik, full HD, dijual seharga 9 jutaan
  • BESTBUY : Sony A6000 kit 16-50mm (9 jutaan)
  • Alternatif 1 : Canon 60D kit 18-55mm (8 jutaan), Nikon D7000 bodi saja (9 jutaan)
  • Alternatif 2 : Nikon D5300 kit 18-55mm (9 jutaan), Sony A5100 kit 16-50mm (8,5 jutaan), Samsung NX30 kit 18-55mm (11 jutaan)

Kelompok kamera 12-15 jutaan :

Sony A7
Kamera mirrorless sensor Full Frame 24 MP, hybrid AF, jendela bidik XGA OLED, 5 fps dijual seharga 14 jutaan bodi saja (tanpa lensa).
  • BESTBUY : Sony A7 bodi saja (14 jutaan)
  • Alternatif 1 : Canon 70D kit 18-55mm (12 jutaan), Nikon D7100 bodi saja (13 jutaan)
  • Alternatif 2 : Fuji X-E2 bodi saja (13 jutaan), Pentax K3 kit 18-135mm (14 jutaan)

Oke, anda boleh saja tidak sependapat dengan saya, tidak apa-apa kok. Daftar disini juga tidak bisa lepas dari subyektivitas personal, walau saya mencoba untuk tetap obyektif. Ada pendapat lain atau ingin diskusi? Silahkan lewat kolom komentar di bawah ini ya, selamat berbelanja 🙂

Advertisements

Antara inovasi dan inkonsistensi kamera buatan Sony

Saya suka kamera buatan Sony, paling tidak saya suka mengamati bagaimana Sony berinovasi dalam hal teknologi, dan selalu penasaran ingin tahu terobosan apa lagi yang bakal dilakukannya. Dulu Sony membuat saya terkesan dengan terobosan live-view di kamera DSLR dengan dual sensor, yang lalu tidak berkembang karena rumit. Lalu Sony mengenalkan translucent mirror (sempat disebut kamera SLT), yang mengatasi permasalahan auto fokus saat live-view. Kini Sony berkembang dengan jajaran mirrorless dan juga kamera translucent mirror-nya, bahkan menjadi produsen kamera mirrorless pertama yang pakai sensor full frame.

Tapi ada yang belum bisa diwujudkan oleh Sony sampai saat ini, yaitu meraih market share yang cukup banyak. Orang masih seperti belum yakin untuk memilih kamera Sony, walau dari teknologi dan value bisa dibilang menyamai bahkan melebihi pemain besar seperti merk C dan merk N. Saya prediksi alasan utamanya adalah kekuatiran jangka panjang, karena kamera sekarang (selain kamera pocket atau kamera prosumer) adalah laksana investasi membangun sebuah sistem yang berkelanjutan. Jaminan dukungan lensa, aksesori dan kamera baru untuk upgrade di masa mendatang jadi sesuatu yang perlu bagi mereka yang menjadikan fotografi sebagai hobi serius atau mata pencarian hidup.

sony_a350_live-view
Kamera Sony A350 dengan sensor live-view terpisah

Continue reading Antara inovasi dan inkonsistensi kamera buatan Sony

Round Up : Kamera digital favorit saya di tahun 2013 (part 1 : system camera)

Tahun 2013 segera berlalu. Di tahun ini cukup banyak diluncurkan kamera baru yang lebih mematangkan teknologi dan kemudahan pemakaian, dan bukan lagi mengejar resolusi (megapiksel) sensor. Di kelas kamera DSLR tidak banyak peningkatan besar-besaran, masing-masing produsen hanya melakukan update minor untuk produk-produk mereka. Di segmen mirrorless tampak meriah dengan munculnya varian-varian baru yang lebih terjangkau. Di sisi lain perkembangan kamera ponsel yang semakin maju membuat kamera saku sudah tidak punya pilihan selain memperbaiki limitasi mendasar seperti lensa dan kemampuan nirkabel. Maka itu kamera saku yang lebih dicari adalah kamera saku kelas premium (harganya agak tinggi) yang punca ciri lensanya bisa membuka lebih besar (umumnya f/1.8) sedangkan rata-rata kamera saku lainnya hanya bisa membuka di f/3.5 saja.

Saya mengamati banyaknya kamera yang hadir tahun ini akan membingungkan calon pembeli, baik itu yang ingin mulai hobi fotografi ataupun yang ingin upgrade dan naik kelas ke tingkat yang lebih advance. Hal ini karena beragamnya pilihan dan kemiripan fitur antara kamera satu dengan yang lain. Sebetulnya supaya mudah, kita bisa menggolongkan dari sekian banyak kamera yang hadir di tahun 2013, ke dalam beberapa segmen seperti DSLR, mirrorless maupun compact. Di setiap segmen bisa jadi punya pembagian lagi, seperti mirrorless premium atau mirrorless ekonomis. Nah daripada anda repot-repot, saya sudah kelompokkan kamera-kamera tersebut dalam kategori yang baku, dan sudah saya dapatkan juga kamera yang menurut saya paling oke di masing-masing segmen. Seperti biasa, ini hanya pendapat pribadi, sangat subyektif dan bukan berarti saya menyatakan kamera tersebut adalah yang terbaik. Anda boleh sependapat, dan tentu boleh juga tidak sependapat.

Di bagian 1 artikel ini saya menyusun kategori system camera, artinya kamera dengan lensa yang bisa dilepas dan bisa dipasang aksesori lain yang beragam. Di bagian 2 nanti, saya akan ulas khusus kamera yang sudah punya lensa terpadu, seperti kamera superzoom dan kamera saku. Yuk kita mulai.. Continue reading Round Up : Kamera digital favorit saya di tahun 2013 (part 1 : system camera)

Panduan belanja kamera DSLR 2012

Selamat tahun baru 2012. Masih mencari kamera DSLR di tahun ini? Atau ada yang kebetulan ingin ganti ke model yang lebih bagus tapi masih bingung mau memilih yang mana? Saya coba buat analisa ringan dari pilihan kamera DSLR di awal tahun ini untuk tiap segmen dan tiap rentang harga, siapa tahu bisa jadi panduan belanja anda atau sekedar menambah wawasan saja.

Tahun 2012 baru dimulai, tentunya barang yang saya tulis adalah buatan tahun 2011 atau lebih lama lagi, namun masih ada di pasaran. Kalau nanti ada barang baru di tahun ini pun rasanya belum langsung ada di pasaran, jadi saya pikir panduan belanja ini masih akan relevan sampai akhir tahun 2012. Continue reading Panduan belanja kamera DSLR 2012

Sony SLT-A33 vs Lumix GH2, mencari format terbaik untuk kamera hybrid

Kamera yang oke untuk foto maupun video. Mungkin inilah yang jadi jawaban kita saat ditanya kamera seperti apa yang diinginkan. Langsung saja, bicara kualitas maka kita akan bicara soal kamera dengan sensor besar. Yang muncul di benak kita selanjutnya tentu kamera DSLR kan? Masalahnya, DSLR belum cukup mudah untuk urusan merekam video, apalagi bila sudah urusannya soal auto fokus. Kebanyakan DSLR belum bisa auto fokus saat merekam video, kalaupun ada kinerjanya belum sesuai harapan. Tanpa terobosan di bidang kamera, sulit mendapatkan kamera yang ideal (oke untuk foto dan video). Terobosan inilah yang kemudian menjadi awal kelahiran kamera hybrid, hasil pengembangan teknologi yang belum pernah dijumpai di era sebelumnya. Continue reading Sony SLT-A33 vs Lumix GH2, mencari format terbaik untuk kamera hybrid

Barang baru di CES Las Vegas 2010

CES, atau Consumer Electronics Show adalah ajang pameran elektronik tahunan di Amerika yang jadi kesempatan untuk mengenal teknologi baru di awal tahun. Kali ini CES 2010 diadakan di Las Vegas mulai 7 Januari 2010 dan berakhir tepat hari ini. Ajang pameran ini meski bukan khusus fotografi tapi masih didominasi oleh produk kamera digital baru dan selebihnya adalah komputer dan ponsel (ajang pameran fotografi sebenarnya namanya PMA dan akan diadakan bulan depan di California). Untuk mengintip apa saja yang jadi bintang di ajang CES 2010, inilah dia barang baru yang mestinya membuat kita merasa penasaran. Continue reading Barang baru di CES Las Vegas 2010