Ikuti lomba foto Indomaret 2016, hadiah total 250 juta rupiah

Update : periode lomba diperpanjang hingga 30 September 2016.

Ayo ikuti lomba foto yang diadakan oleh Indomaret bekerjasama dengan id-photographer dan Nikon Indonesia. Kali ini lomba mengambil tema ‘Potret Indonesia’ dan siapkan karya foto terbaik Anda yang masih baru (maksimum 2 tahun, dilihat dari EXIF). Lomba ini gratis dengan hadiah total 250 juta rupiah.

Akan dipilih 15 foto finalis, untuk ditentukan Juara 1, 2, 3 dan 12 Juara Harapan. Pemenang Utama (Juara I, II, III), akan mendapatkan hadiah :

  • Juara I : Rp. 25.000.000,- + Kamera Nikon Df 50mm f1.8G kit + Trophy + Piagam
  • Juara II : Rp. 20.000.000,- + Kamera Nikon D7200 18-140mm VR kit + Trophy + Piagam
  • Juara III : Rp. 10.000.000,- + Kamera Nikon D5500 18-55mm VRII kit + Trophy + Piagam
  • 12 Pemenang Harapan masing-masing akan mendapatkan uang sebesar Rp. 2.500.000,- + Kamera Nikon CoolPix L340

Syarat dan Ketentuan Teknis Lomba :

  • Lomba foto terbuka untuk umum, warga negara Indonesia
  • Pendaftaran GRATIS, dengan mengunggah struk belanja di Indomaret senilai Rp 75.000,- yang di dalamnya terdapat salah satu produk sponsor
  • Foto diambil menggunakan Kamera DSLR, Pocket atau Mirrorless, merupakan karya sendiri dan belum pernah memenangkan lomba foto manapun
  • Foto harus berumur maksimal 2 tahun pada saat lomba ditutup sesuai data EXIF yang ada
  • Foto harus sesuai dengan Tema “POTRET INDONESIA” meliputi : Landscape / Nature, Human Interest, Ragam Budaya & Tradisi
  • Tiap peserta dapat mengirimkan maksimal 10 foto dengan tema obyek yang sama atau bebeda
  • Foto dikirim ke www.indomaret.co.id/lombafoto dengan ukuran maksimal sisi terpanjang 900 pixel, 300 dpi, format JPG, maksimal ukuran file 300 KB
  • Foto yang diupload harus masih mengandung data EXIF dan tidak diperkenankan mencantumkan data, tulisan / gambar apapun di dalam foto
  • Peserta diwajibkan melakukan registrasi dengan melengkapi data : Nama Peserta, Judul, Lokasi Pemotretan, Email, Nomor Telp, No. Identitas Diri, dan Struk Belanja
  • Pemenang wajib menyerahkan model release apabila di dalam foto pemenang terdapat model / orang yang terekspose dengan baik di dalamnya
  • Rekayasa digital diizinkan sebatas cropping, kontras, dodging dan burning, saturasi
  • Panitia tidak melayani segala tuntutan dari pihak manapun mengenai isi foto peserta yang dilombakan
  • Peserta yang masuk finalis 15 besar diwajibkan mengirim foto ukuran resolusi tinggi (min. 3000 pixel / 300 dpi), dan email scan identitas diri
  • Semua FOTO FINALIS menjadi milik panitia dan panitia berhak menggunakan foto tersebut sebagai bahan publikasi tanpa harus meminta izin terlebih dahulu selama 2 tahun dan selama periode tersebut foto pemenang tidak boleh diikutkan lomba atau dipergunakan sebagai alat promosi produk lain
  • Panitia berhak mediskualifikasi peserta sebelum dan sesudah penjurian, apabila dianggap melakukan kecurangan dan tidak sesuai dengan aturan lomba foto ini
    Keputusan dewan juri sah dan tidak dapat diganggu gugat
  • Bagi pemenang 1, 2, 3 diwajibkan untuk datang untuk menerima hadiah Lomba Foto Indomaret 2016
  • Pemenang akan diumumkan pada saat Awarding Ceremony yang diadakan di Bandung dan dapat dilihat di http://www.indomaret.co.id/lombafoto

Continue reading Ikuti lomba foto Indomaret 2016, hadiah total 250 juta rupiah

Bagaimana anda menilai kualitas hasil foto?

Saya cukup lama mengamati perkembangan dunia digital imaging, khususnya kamera digital. Faktanya tidak setiap kamera memberi hasil foto yang sama kualitasnya. Faktor penentu utama adalah sensor gambar yang dipakai, apakah itu full frame, APS-C, Micro 4/3, 1 inci atau sensor kecil seperti di kamera saku atau ponsel. Saya kerap mendapat pertanyaan tentang mana kamera yang lebih bagus (hasil fotonya), kamera A atau kamera B? Bagi saya jawabnya sih mudah saja, tinggal lihat ukuran sensornya.

Sensor size

Saat membandingkan kualitas hasil foto dari kamera, paling fair memang melihat kemampuan sensornya, dengan catatan harus apple-to-apple dalam hal ukuran sensor. Misalnya kamera full frame seperti Sony A7 series ya harusnya dibandingkan dengan Canon atau Nikon full frame juga, jangan diadu dengan kamera APS-C seperti Canon 7D atau Nikon D7200. Masalahnya urusan menilai sensor itu lebih kepada pekerjaan orang lab daripada fotografer. Maka itu sebaiknya kita tidak usah terjebak dengan angka-angka. Tugas mereka memang menguji, mengukur dan memberi skor untuk setiap sensor kamera jadi pasti ada yang nomor satu dan ada yang nomor dua, bahkan sesama sensor APS-C saja ada yang skornya tinggi dan ada yang skornya rendah.

Beginilah cara lab menguji dan merating sensor kamera
Beginilah cara lab menguji dan merating sensor kamera

Kalau kita kesampingkan soal harga, saya setuju kalau untuk mendapat hasil foto terbaik kita perlu kamera full frame. Tapi tidak semua orang bisa beli kamera full frame, maka kamera sensor APS-C atau Micro 4/3 bisa jadi pilihan yang lebih realistis. Apakah hasil fotonya memang kalah? Secara teknis iya, sebutlah misalnya soal dynamic range, soal noise di ISO tinggi dan soal tonal dan bit depth. Tapi semua itu jangan juga menjadi sesuatu yang merisaukan kita. Sekali lagi saya sampaikan, tidak perlu terjebak dengan angka-angka, oleh komparasi akan sesuatu yang terukur. Paling sering kita tahu orang terjebak soal memahami megapiksel yang disalahartikan sebagai kualitas foto. Agak lucu kalau kita mendengar orang berkata : “Foto saya tidak bagus karena kamera saya sensornya cuma 12 MP” misalnya.

Beda bentuk, satu DSLR satu mirrorless, tapi sensornya sama-sama APS-C 24 MP. Dengan kedua kamera ini, kita bisa bikin foto yang bagus, walaupun skor sensor kedua kamera ini agak beda.
Beda bentuk, satu DSLR satu mirrorless, tapi sensor keduanya sama-sama APS-C 24 MP. Dengan kedua kamera ini, kita bisa bikin foto yang bagus, walaupun skor pengujian lab untuk sensor kedua kamera ini agak beda.

Nah, kalau menurut anda bagaimana caranya menilai kualitas hasil foto? Apakah dari sisi numerik, atau dari sisi artistik, atau dari keduanya?

Kalau anda menilai kualitas foto dari sisi numerik/skoring sensor saja, anda perlu cari kamera yang sensornya punya skor tinggi di pengujian lab.

tapi..

Kalau anda suka melihat kualitas foto dari sisi artistik saja, mungkin kamera saku atau ponsel saja tidak masalah buat anda.

Continue reading Bagaimana anda menilai kualitas hasil foto?

Video 4K tebar ancaman untuk masa depan fotografi?

Apa itu video 4K? Gampangnya video 4K adalah video dengan resolusi sangat tinggi yang mampu merekam video resolusi 4x lebih detil dari video HD biasa, atau disebut juga dengan Ultra HD (UHD). Dalam hitungan piksel, maka bidang gambar dari video ini adalah 3840×2160 piksel (setara dengan foto 8 MP) yang melebar dengan aspek rasio 16:9. Beberapa kamera baru seperti Panasonic Lumix GH4, handycam Sony  FCR-AX1, JVC GY-HMQ10 dan baru-baru ini ponsel Samsung Galaxy S5 sudah bisa merekam video UHD. Video 4K itu punya data rate yang sangat tinggi, sehingga dalam waktu singkat bisa jadi kartu memori yang kita pasang langsung terisi penuh. Itupun dengan catatan kartu memori yang dipakai harus yang punya kecepatan baca tulis sangat tinggi, misal kartu SD berlogo UHS-1. Untuk melihat hasil videonya dengan optimal diperlukan TV yang juga memenuhi standar 4K, itupun diperlukan kabel HDMI generasi kedua yang mampu menampung bandwidth hingga 18 Gbps, video 3840×2160 piksel 60 fps tidak terkompres, 32 kanal audio dan dengan bentuk konektor yang sama dengan HDMI biasa. Continue reading Video 4K tebar ancaman untuk masa depan fotografi?

Info : Kursus Dasar Fotografi di Jakarta

Belajar fotografi kini semakin diminati banyak orang untuk mendapatkan foto yang bagus. Bila anda tertarik untuk belajar bersama saya sebagai instruktur tetap dari infofotografi.com tersedia bermacam agenda kursus, workshop dan mentoring privat/semi privat yang diadakan di Jakarta.

Berikut adalah jadwal kursus di bulan Oktober 2016 :

Continue reading Info : Kursus Dasar Fotografi di Jakarta

Sepenggal kisah dari tur ke Vietnam (Hanoi, Tam Coc dan Halong Bay)

Fotografi, traveling dan internet bagaikan perpaduan yang dahsyat. Dari internet kita bisa mengenali destinasi wisata yang unik, dari hobi fotografi juga kita bisa ditantang untuk mempraktekkan teori dan semakin mengenali kamera yang kita punya. Traveling adalah solusi jitu untuk tamasya, melupakan sejenak kepenatan hidup dan sekaligus mengasah kemampuan fotografi kita. Disini saya akan berbagi sepenggal kisah tur saya minggu lalu yang mungkin ada gunanya buat pembaca sekalian.

Saya beserta infofotografi.com rutin menggelar trip fotografi baik dalam maupun luar negeri. Waktunya bervariasi antara 2 hari (Sabtu-Minggu) atau lebih lama (7 hari) tergantung lokasinya. Untuk yang luar negeri sendiri ditargetkan ada 1 atau 2 kali dalam setahun. Pada Tur Vietnam kali ini kami menyambangi daerah Hanoi di Vietnam Utara yang terkenal akan keindahan alam dan budayanya, plus mengunjungi destinasi wisata gugusan pulau karang yang diklaim terindah di Asia dan dilindungi oleh Unesco, yaitu Halong Bay.

Peserta tur ini umumnya adalah alumni kursus fotografi yang diadakan oleh infofotografi.com dan tercatat sebanyak 21 orang yang ikut mendaftar. Karena belum pernah ada dari kami yang kesana, kami bekerja sama dengan agen travel yang bonafid dan direkomendasikan fotografer kelas dunia. Pihak merekalah yang mengatur dari akomodasi dan itenerary selama di Vietnam. Kami hanya mengatur jadwal pesawat yaitu dengan Lion ke Singapura dan lanjut pakai Tiger ke Hanoi, pp.

Ada sedikit kabar tidak enak 2 minggu sebelum hari H karena tiba-tiba pihak Tiger merubah jadwal yang membuat jadwal pesawat jadi bentrok. Hal ini berakibat jadwal Lion pp harus dirubah 1 hari sehingga kena biaya administrasi, adapun kabar baiknya (atau kabar buruknya) adalah kami harus menginap 1 malam di Singapura sebelum ke Vietnam, dan 1 malam lagi setelah dari Vietnam. Akhirnya dibuatlah rencana tambahan seperti mencari penginapan yang strategis dan terjangkau di Singapura, serta mencari lokasi fotografi yang oke dan menarik di Singapura. Continue reading Sepenggal kisah dari tur ke Vietnam (Hanoi, Tam Coc dan Halong Bay)

Contoh sederhana pemakaian filter CPL

Pemakaian filter jenis CPL (Circular Polarize) bertujuan mengurangi pantulan yang terjadi di air atau di kaca. Filter CPL dipasang secara screw-in di depan lensa layaknya filter ND atau filter UV. Bedanya, filter CPL bisa diputar sehingga kita bisa melihat hasilnya dengan memutar filter sebelum memotret. Filter ini agak gelap dan sedikit mengurangi cahaya yang masuk ke lensa, juga bisa membuat kesan langit lebih biru atau lebih kontras (tentunya juga dengan memutar dulu filternya dan lihat efeknya terhadap warna langit). Continue reading Contoh sederhana pemakaian filter CPL