Mini review : kamera mirrorless Olympus E-M10 mark II

Olympus E-M10 mk II adalah kamera mirrorless kelas bawah di lini OM-D, ditujukan untuk fotografer pemula yang mencari kamera mirrorless yang lebih lengkap dan serius namun tidak semahal E-M5. Kamera seri OM-D punya ciri fisik mirip DSLR, dengan jendela bidik di bagian atas (bukan disamping kiri seperti kamera mirrorless ala rangefinder pada umumnya) dan sedikit lebih besar dari kamera seri Pen (misal EPL7, Pen F dsb), serta punya banyak kendali untuk aneka setting.

IMG_9169

Di generasi kedua dari lini E-M10 ini Olympus memberi 5 axis stabilizer (sebelumnya hanya 3 axis) dan peningkatan lain (electronic shutter, jendela bidik semakin detail, 60 fps video dsb) serta fitur baru seperti 4K timelapse dan AF target pad. Desain kedua kamera juga sedikit berbeda khususnya di tuas on-off, yang kini menjadi satu dengan tuas flash.

IMG_9159

Menurut saya desain EM10 mk II ini cukup ideal. Ukuran pas ditangan, grip cukup nyaman, bodi berbahan logam dan tata letak tombol dan roda yang pas. Layar lipat dan sentuh juga jadi bonus yang menyenangkan.

Continue reading Mini review : kamera mirrorless Olympus E-M10 mark II

Review Singkat kamera mirrorless Fuji XT1

Kali ini saya akan bahas kamera Fuji, khususnya membuat review singkat dari hasil mencoba Fuji X-T1 dengan beberapa lensanya. Tantangan untuk saya saat mencoba Fuji X-T1 adalah membiasakan mengganti setting eksposur melalui roda fisik seperti kamera lama, dan membuktikan karakter JPG yang terkenal baik (maka itu saya jarang ambil RAW saat review ini saya buat).

Tidak ada mode P/A/S/M di Fuji X-T1, saya anggap kamera ini seperti kamera manual. Saya harus memilih sendiri mau pakai bukaan berapa, shutter speed berapa dan ISO berapa lalu meninjau light meternya (atau histogram). Bisa saja salah satunya dibuat A (Auto) misal ISO diputar ke A, maka kamera ini akan beroperasi seperti mode semi-manual, tinggal mainkan saja kompensasi eksposurnya.

Fuji XT1

Tidak cuma roda eksposur, ada juga kendali drive dan metering dalam bentuk tuas, juga mode AF (AF-S, AF-C dan MF) dalam bentuk tuas di depan. Tuas ini terasa terlalu kecil dan pernah tanpa sengaja tergeser saat memasukkan kamera ke tas, sehingga tanpa sadar saya sudah pakai mode spot metering selama beberapa saat. Kendali 4 arah di belakang juga tidak diberi nama, kita harus ingat panah bawah adalah untuk mengakses area fokus, tanpa adanya layar sentuh maka tombol 4 arah penting sekali untuk mengganti area fokus yang kita mau.

Fuji XT1 back

Fuji X-T1, seperti sebagian besar kamera Fuji mirrorless lain, mengandalkan sensor X-Trans 16 MP APS-C yang banyak disukai orang karena ketajaman dan warnanya, serta rendah noise. Jumlah piksel sebanyak 16 MP ini termasuk cukup dan seimbang untuk mendapat detail tinggi sambil tetap menjaga ketajaman foto. Terdapat piksel pendeteksi fasa di sensor sehingga auto fokusnya bisa lebih cepat karena tidak cuma mengandalkan deteksi kontras saja seperti kamera mirrorless lain. Continue reading Review Singkat kamera mirrorless Fuji XT1

Review singkat Advan S50F, ponsel sejutaan layar 5 inci HD

Kebetulan pas lagi cari ponsel untuk anak, di salah satu toko online ternama lagi ada pre-order Advan S50F seharga 1,1 juta (normal 1,6 juta). Saya agak kaget juga karena biasanya yang ditawarkan secara pre-order kan ponsel kelas atas, tapi ini kok yang harga sejutaan. Yang beda dengan ponsel sejutaan lain adalah Advan ini layarnya 5 inci dengan resolusi HD (1280×720), jauh diatas resolusi qHD. Selain itu ponsel ini sudah quad core 1,2 GHz buatan Mediatek dengan dukungan 1 GB RAM. Berbekal value yang menarik ini saya pun tergoda pre-order juga walaupun belum tahu juga kualitasnya seperti apa.

Hands on Advan S50F

Saat paket kiriman tiba di rumah, saya cek kemasan dusnya berwarna putih keren, cukup terkesan mewah. Ponsel berwarna gold ini pun akhirnya ada di tangan saya dan siap untuk dioprek. Awalnya saya cukup stress mencari cara membuka tutup belakangnya dan ternyata jawabannya ada sedikit celah di pojok atas (bukan bawah) dan perlahan terbukalah tutupnya sehingga saya bisa pasang baterai, micro SD dan SIM.

Advan S50F back

Ponsel Advan S50F ini dual SIM, uniknya SIM 1 ukurannya normal, SIM 2 ukurannya micro. Keduanya bisa siaga bersamaan, tapi hanya salah satu yang bisa koneksi WCDMA. Dalam paket penjualan disediakan baterai kapasitas 2200 mAh, pengisi daya dan sebuah earphone. Saat booting pertama semua berjalan lancar, saya perlu sedikit adaptasi dengan tampilan khas IDOS (Indonesia OS) yang agak berbeda dengan home screen ponsel lain.

Advan S50F IDOS

Tombol daya, volume up down ada di kanan. Di atas ada port USB (mendukung OTG) dan colokan earphone. Di bagian bawah layar ada tiga soft button khas Lolipop (walau ponsel ini masih KitKat), yaitu segitiga kiri, lingkaran dan kotak. Ketiga simbol ini terpisah dari layar jadi bagusnya ukuran layar tidak terpotong oleh keberadaan tombol ini. Sayangnya ketiga tombol ini tidak menyala dalam gelap. Continue reading Review singkat Advan S50F, ponsel sejutaan layar 5 inci HD

Review singkat Canon EOS 70D, lensa Sigma 17-70mm HSM dan EF-S 10-18mm STM

Canon 70D adalah kamera kelas menengah pengganti 60D dan diposisikan di bawah 7D dan di atas Canon Rebel (700D, 750D dsb). Diluncurkan pertama kali sekitar 2 tahun yang lalu (2013), kamera ini masih populer sampai saat ini dan dijual di kisaran 11 jutaan bodi saja.

Review singkat ini saya buat karena saya baru saja upgrade ke Canon EOS 70D (sebelumnya pakai Nikon D5100) dan alasan memilih kamera baru ini bukan karena 70D punya hasil foto terbaik atau kinerja tertinggi dibanding kamera lain, melainkan karena 70D punya keseimbangan fitur-kinerja-harga yang paling pas bagi saya. Selain itu ya tentunya kamera yang saya inginkan ini harus mudah dipakai dan ukurannya pas untuk tangan (dan kantong) saya.

DSC_2385 cr

Sensor di EOS 70D adalah APS-C CMOS 20 MP yang hasil fotonya sudah tergolong baik, tapi tidak terlalu istimewa (dalam hal skor DxO mark atau dalam hal jumlah piksel). Kinerja shoot kontinu juga sedang-sedang saja (7 fps), ISO sampai 12.800 dan bodinya juga masih berbalut plastik, bukan magnesium alloy. Canon EOS 70D punya banyak peningkatan dibanding 60D seperti titik fokus dari 9 titik jadi 19 titik, ada dual pixel AF, fitur HDR, ada Auto ISO yang seperti Nikon, dan layar lipatnya mendukung sistem layar sentuh. Saya sempat membandingkan 70D dengan 760D (Rebel T6s) karena banyak kesamaan fitur, tapi akhirnya 70D bagaimanapun tetap lebih layak untuk dipilih. Misalnya karena jendela bidik dari prisma yang lebih nyaman, ada fitur HDR, multiple exposure, AF fine tune, konversi RAW ke JPG di kamera hingga fitur videonya yang sudah ditambah opsi kompresi rendah All-I untuk hasil lebih baik, walau ukuran file jadi lebih besar. Sebagai info, fitur movie servo AF dimungkinkan bila lensa yang dipasang adalah berjenis STM, selain itu maka servo AF akan terlihat kurang mulus transisinya.

DSC_2264 sml
Canon 70D tampak belakang dengan berbagai tombol dan roda kendali

Continue reading Review singkat Canon EOS 70D, lensa Sigma 17-70mm HSM dan EF-S 10-18mm STM

Review : Samsung NX mini

Kali ini saya akan menyajikan sebuah review singkat sebuah kamera mirrorless mungil dari Samsung bernama NX mini.  Kita ingat bahwa dulu saat ide miniaturisasi sistem kamera muncul, hal yang paling sulit adalah mengecilkan ukuran lensa. Lensa kecil tentu hanya bisa didukung oleh sensor gambar yang kecil juga. Padahal sensor yang kecil membuat hasil foto jadi kurang baik. Jika bila memang ingin cari kamera kecil dengan lensa kecil, maka pertimbangkanlah kamera yang punya sensor kecil yang tidak terlalu kecil, misalnya sensor 1 inci.

Samsung NX mini

Tidak banyak produsen kamera yang bermain di sensor kecil 1 inci. Tercatat hanya Nikon yang konsisten dengan produk Nikon 1 (seri J, seri V dan seri S). Padahal sistem Nikon 1 menurut saya berhasil mewujudkan ide miniaturisasi kamera yang mungkin berguna bagi penyuka travel atau fotografi harian yang ringan. Kali ini Samsung yang mengusung nama NX untuk kamera mirrorlessnya hadir lagi dengan Samsung NX mini. Bedanya adalah Samsung NX memakai sensor APS-C, dan mount lensa NX (crop 1,5x). Sedangkan Samsung NX mini memakai sensor 1 inci, dengan mount NX mini (crop 2,7x). Sensor 1 inci tentu tidak bisa sehebat sensor APS-C, tapi sensor ini cukup murah, bisa mengakomodir lensa ukuran kecil, dan masih cukup bagus hasilnya dibanding sensor kamera saku yang ukurannya sekitar setengah dari sensor 1 inci.

NX mini front

Saya mencoba Samsung NX mini dengan lensa kit 9-27mm f/3.5-5.6 OIS. Lensa ini akibat crop factor 2,7 menjadikan ekivalen 24-70mm di full frame. Lensa ini terbilang cukup kecil, walaupun termasuk lensa zoom. Bahkan lensa fix NX mini 9 mm ukurannya lebih kecil lagi tapi tidak saya coba. Continue reading Review : Samsung NX mini

Share : pengalaman saya memakai kamera mirrorless Samsung NX3000

Samsung NX3000 adalah kamera mirrorless penerus NX2000 yang mengisi segmen terbawah lini NX, dijual kurang dari 6 juta rupiah sudah dengan lensa kit 16-50mm powerzoom. Kamera 20 MP ini kini mengadopsi tren layar LCD lipat ke atas sehingga mendukung hobi pecinta selfie. Perubahan dari NX2000 ke NX3000 cukup banyak, seperti desain yang berubah total, kini lebih terkesan retro dengan tambahan ada roda mode kamera P/A/S/M. Bila di NX2000 penggunaan kamera umumnya memakai layar sentuh, maka di NX3000 tidak ada lagi sistem layar sentuh tapi diberikan berbagai tombol konvensional di belakang. Sensor gambar di Samsung NX3000 bertipe APS-C sehingga crop factor sensornya adalah 1,5x. Seperti kamera Samsung NX lainnya, NX3000 punya fitur WiFi dan NFC, bisa rekam full HD video dan ISO max hingga 25.600 serta bonus lampu kilat kecil yang bisa dilepas.

Sam-NX-3000
Foto produk dari web

Saya berkesempatan mencoba kamera mungil ini cukup lama, sehingga bisa menguji dengan lengkap semua kelebihan dan kekurangan kamera ini.

Fakta-fakta NX3000 :

  • kamera kecil tapi sensornya besar (APS-C CMOS 20 MP, crop factor 1,5x), hasil foto setara DSLR
  • lensa kit berkualitas baik, fokal mulai dari 16mm yang lebih wide dibanding pesaing
  • fungsi dasar lengkap : ISO 25.600, burst cepat, WB lengkap, video full HD stereo, ada HDR
  • tombol cukup banyak : Fn, Custom, AF, drive, dan roda di belakang dan roda P/A/S/M di atas
  • fungsi Wifi yang lengkap
  • scene mode berguna (waterfall, light trace, sunset dsb) dan sweep panorama yang fungsional

Opini personal saya :

  • Segmentasi : kamera ini cocok untuk keluarga, travelling dan everyday/general shooters
  • Desain : desain keren, tidak terlihat murahan (walau berada di segmen termurah seri Samsung NX)
  • Fotografi : memotret dengan kamera kecil ini tidak mencolok/menarik perhatian sehingga cocok untuk candid, street photo, human interest dan kebutuhan lain yang tidak ingin menjadi perhatian publik
  • Bodi : ada sedikit grip yang membuatnya cukup mantap digenggam, bodi bertekstur ala kulit, tidak licin
  • Lensa kit : memutar zoom dengan lensa powerzoom memang harus sabar karena lebih seperti kamera saku, tapi sisi positifnya ukurannya kecil dan proporsional
  • Baterai : bentuk baterai mirip ponsel Galaxy, ketahanan baterai cukup awet, charge baterai di dalam kamera melalui kabel USB sehingga bisa pakai powerbank (tapi sulit untuk mencharge baterai cadangan), bisa charge sambil memotret juga
  • Ruang simpan : kartu memori berjenis micro SD yang kecil ukurannya ini membuat saya merasa takut hilang kalau dilepas
  • Flash : memang harus pasang flash bawaan bila perlu pakai lampu kilat, karena tidak ada built-in flash, tapi saya memanfaatkan hot shoe untuk memasang flash eksternal manual bahkan radio trigger bisa bekerja tanpa masalah
  • Performa : cukup responsif, khususnya saat shoot kontinu 5 fps (juga ada fitur burst yang sangat cepat dan sekali tekan akan mengambil 20 foto), tapi termasuk sedang saat shot-to-shot, suara shutter cukup lembut (1st curtain electronic shutter, 2nd curtain mechanical shutter)
  • Auto fokus : kinerja auto fokus termasuk lumayan cepat, agak kesulitan bila subyek bergerak, kotak AF bisa diatur besar kecilnya (untuk pin point-AF), tidak ada focus peaking
  • Operasional : walau tidak ada layar sentuh tapi mengganti setting cukup mudah, bisa menekan tombol Fn dan memutar roda
  • Hasil foto : hasil foto termasuk baik, detil dan dynamic range baik, noise di ISO tinggi setara kamera APS-C lain
  • Dynamic Range : ada fitur Smart Range (seperti ADL di Nikon atau DRO di Sony) dan ada in-camera HDR tapi kurang optimal dibanding pesaing (misal Sony A5000) karena tidak ada pilihan level (1 stop, 2 stop dsb); tapi lumayan lah kamera semurah ini sudah bisa HDR
  • Video : rekaman video sudah bagus dengan full HD stereo, bisa zoom tanpa suara motor ikut terekam (dengan lensa kit powerzoom), ada fitur Pause yang tidak ditemui di kamera lain, sayangnya semua setting eksposur diatur otomatis/tidak bisa manual eksposur saat rekam video.

Continue reading Share : pengalaman saya memakai kamera mirrorless Samsung NX3000