Panasonic Lumix FZ200, kamera superzoom lensa f/2.8 konstan

Di tengah banyaknya kamera baru bermunculan, ada keraguan di benak saya apakah kamera superzoom masih bisa bertahan? Upaya untuk tetap menarik minat pembeli sudah dilakukan oleh berbagai vendor dan yang paling gampang dilakukan sejauh ini adalah menambah panjang lensanya. Kamera superzoom memang didesain untuk bisa menjangkau fokal tele yang ekstra panjang, misalnya diatas 300mm. Permasalahannya adalah, sampai sebatas mana tele yang dianggap cukup buat kebanyakan orang? 500mm, 600mm, atau lebih? Nikon bahkan membuat kamera Coolpix P510 dengan lensa hingga 1000mm, siapa tahu karenanya lantas orang tertarik untuk membeli.  Continue reading Panasonic Lumix FZ200, kamera superzoom lensa f/2.8 konstan

Nikon hadirkan D5100 untuk menghadang EOS 600D

Bagi kebanyakan fotografer pemula, produk DSLR dari Nikon yang bernama D3100 secara fitur dan kinerja semestinya sudah mencukupi. Namun bila tidak puas dengan D3100, ada pilihan lain yaitu Nikon D7000 yang jauh lebih superior. Perbedaan spesifikasi dan harga antara D3100 dan D7000 memang terlalu lebar, maka itulah celah kosong yang dulu diisi D5000 terasa perlu untuk segera ‘ditambal’ oleh Nikon. Seperti yang sudah diduga sebelumnya, Nikon akhirnya merilis DSLR Nikon D5100 sebagai produk tengah-tengah yang tidak terlalu basic dan juga tidak terlalu high-end. Jadilah D5100 ini sebuah jawaban Nikon untuk menjaga persaingan dengan EOS 600D (yang juga memakai LCD lipat), sekaligus mengisi celah antara D3100 (yang dihadang oleh EOS 2000D) dan D7000 di kelas atasnya. Continue reading Nikon hadirkan D5100 untuk menghadang EOS 600D

Sony SLT-A33 vs Lumix GH2, mencari format terbaik untuk kamera hybrid

Kamera yang oke untuk foto maupun video. Mungkin inilah yang jadi jawaban kita saat ditanya kamera seperti apa yang diinginkan. Langsung saja, bicara kualitas maka kita akan bicara soal kamera dengan sensor besar. Yang muncul di benak kita selanjutnya tentu kamera DSLR kan? Masalahnya, DSLR belum cukup mudah untuk urusan merekam video, apalagi bila sudah urusannya soal auto fokus. Kebanyakan DSLR belum bisa auto fokus saat merekam video, kalaupun ada kinerjanya belum sesuai harapan. Tanpa terobosan di bidang kamera, sulit mendapatkan kamera yang ideal (oke untuk foto dan video). Terobosan inilah yang kemudian menjadi awal kelahiran kamera hybrid, hasil pengembangan teknologi yang belum pernah dijumpai di era sebelumnya. Continue reading Sony SLT-A33 vs Lumix GH2, mencari format terbaik untuk kamera hybrid

Nikon luncurkan D3100, apa reaksi Canon?

Hari ini Nikon resmi meluncurkan produk baru bernama D3100 yang diposisikan untuk mengisi segmen entry level yang sebelumnya ditempati oleh D3000. Hadir dengan bodi yang persis sama seperti D3000, produk anyar ini justru mengejutkan dengan menawarkan fitur movie recording yang sebelumnya hanya ada di DSLR Nikon yang punya harga jual lebih tinggi. Tidak tanggung-tanggung, D3100 justru menjadi DSLR pertama Nikon yang sanggup merekam video dengan resolusi full High Definition atau 1920 x 1080 piksel, bahkan kamera sekelas D3S pun hanya menawarkan resolusi HD 1280 x 720 piksel saja. Hal ini tentu kabar baik bagi mereka yang menantikan era video recording berkualitas yang terjangkau. Hebatnya, fitur movie di D3100 ini sudah mendukung continuous AF sehingga tak perlu lagi mengatur ring manual fokus saat sedang merekam video. Continue reading Nikon luncurkan D3100, apa reaksi Canon?

Perbandingan antara Panasonic GF1 dan Olympus E-P1

Setelah Panasonic meluncurkan Lumix GF1, salah satu kamera sistem micro four thirds yang ringkas (compact), banyak pengamat yang mengatakan bahwa GF1 ini adalah pembunuh Olympus E-P1. Bila saya amati lebih cermat, meskipun ukuran kedua kamera ini hampir sama, tapi ternyata tiap kamera memiliki banyak perbedaan.

Mari kita langsung lihat kesamaan dan perbedaannya: Continue reading Perbandingan antara Panasonic GF1 dan Olympus E-P1

Lumix DMC-GF1 : jawaban Panasonic untuk Olympus E-P1

Sukses Olympus menghadirkan kamera saku bersensor Four Thirds (4/3) yang bernama E-P1 (digital pen) rupanya membuat Panasonic juga harus meladeni mitranya dalam konsorsium Micro Four Thirds ini dengan produk sejenis. Sebelumnya format Micro Four Thirds diwujudkan oleh Panasonic dalam bentuk SLR-like (seperti G1 dan GH1) sehingga tujuan  utama format Micro 4/3 menciptakan miniaturisasi kamera DSLR pun dianggap belum tercapai. Kini Panasonic menghadirkan kamera saku bersensor 4/3 dengan nama Lumix GF1. Bayangkan kualitas sensor DSLR yang tertanam pada kamera yang desain bodinya seperti Lumix LX3, dengan lensa yang bisa dilepas, didukung oleh kinerja Venus HD engine dan punya fitur super lengkap, semua terpadu di kamera seharga 9 juta ini. Continue reading Lumix DMC-GF1 : jawaban Panasonic untuk Olympus E-P1