Fuji X-T10, kamera Fuji paling menarik bagi saya

Saya akui saya memang jarang bahas kamera Fuji, jadi sekali-sekali saya tulis juga lah. Pernah sih coba dari X-A1 hingga X-T1 dan berbagai lensanya, so far impresinya positif. Bahkan saya juga suka dengan kamera Fuji non mirrorless seperti X-20 dan X100s. Kalo gak percaya ini buktinya saya lagi pegang Fuji X-T1 :)

DSC00627 XT1

Tapi baru-baru ini Fuji bikin saya antusias saat dia luncurkan versi murah dari X-T1 yaitu Fuji X-T10. Dalam banyak hal Fuji X-T10 memang masih banyak kemiripan dengan Fuji X-T1, misalnya dibuat dengan desain bodi berbahan magnesium alloy (namun tidak weathersealed) dan ada roda pengaturan shutter speed di bagian atas bodi. Bedanya kini X-T10 justru menyediakan pop-up flash, walau sebagai komprominya ukuran jendela bidik jadi mengecil.

Fuji X-T10

Hal-hal yang menarik dari Fuji X-T10 adalah tentu saja kekuatan sensornya (16 MP X trans APS-C), desain retro klasik yang mengingatkan pada kamera Fujica jaman dulu, sistem auto fokus deteksi fasa yang kinerjanya sudah setara dengan update firmware terkini Fuji X-T1 (seperti ada zone AF dan eye detect AF) dan ada digital split image untuk manual focus. Soal kinerja masih tetap impresif dengan lag sangat singkat, ISO 25600, 8 fps, shutter speed hingga 1/32000 elektronik, dan tentunya berbagai Film Simulation yang disukai banyak fans Fuji.

Fuji X-T10 back

Saya pikir inilah kamera yang paling realistis untuk banyak orang. Model retro keren, hasil foto bagus, banyak pengaturan dan roda kendali, ada jendela bidik dan flash, dan harganya (semoga) tidak mahal. Hal-hal seperti tidak ada tombol focus assist atau tidak weathersealed mungkin bukan hal utama bagi sebagian orang termasuk saya. Kamera ini akan bersaing ketat dengan Sony A6000, Samsung NX30, bahkan dengan Lumix G7 atau Olympus E-M10. Saya hanya agak khawatir soal editing file RAW karena Fuji ini kan pakai sensor X-Trans yang penataan filter warnanya beda dengan Bayer CFA sehingga mungkin program seperti Lightroom akan kurang maksimal saat mengedit RAW-nya Fuji.

Fuji HS50EXR, kamera superzoom baru yang layak dipertimbangkan

Bertahun-tahun lalu, saya cukup antusias mengamati tren kamera superzoom yang penuh kejutan. Lambat laun evolusi mereka mulai stagnan, ditengah makin murahnya kamera DSLR. Hanya ada satu hal menarik dari kamera superzoom, yaitu bisa memotret benda yang jauh dengan lensa yang ada di kamera. Tapi banyak orang lantas kecewa karena menyangka kamera yang sepintas tampak serupa dengan DSLR itu hasil fotonya ternyata sangat biasa saja (kalo tidak bisa dibilang jelek). Lalu kamera superzoom mulai sepi peminat, hingga memaksa produsen kamera untuk putar otak hingga diluar kewajaran : membuat lensa yang ‘super’ panjang. Continue reading Fuji HS50EXR, kamera superzoom baru yang layak dipertimbangkan

Adu dua superzoom murah : Fuji S3200 vs Nikon L120

Kamera superzoom punya segmen market yang unik, yaitu mereka yang mengejar kamera dengan lensa all round dalam bentuk yang ringkas dan harga terjangkau. Soal kualitas hasil foto maupun fitur fotografi memang boleh saja dinomorduakan, yang penting dari segi penampilan kamera superzoom tampak seakan seperti kamera serius. Maka itu kita tidak perlu membayar mahal untuk kamera semacam ini, cukuplah dengan dana 2 jutaan bahkan kurang, kita bisa bermain-main dengan kamera yang lensanya punya kekuatan zoom hingga 20x bahkan lebih.

21x zoom
Ilustrasi rentang fokal kamera superzoom

Continue reading Adu dua superzoom murah : Fuji S3200 vs Nikon L120

Kamera saku tahun 2011 kini pakai sensor 16 MP

Tahun 2011 sudah datang. Prediksi saya menjadi kenyataan, kamera digital akan kehilangan arah dalam melakukan upgrade dan akan memaksakan resolusi sensor di luar batas kewajaran. Alhasil lahirlah kamera-kamera baru dengan sensor beresolusi ‘gila’ yaitu 16 mega piksel (hampir 3x lipat resolusi kamera Nikon D40 saya). Apakah ini kabar baik atau buruk? Bagi saya ini kabar buruk karena noise yang dihasilkan akan semakin tinggi dan belum lagi besarnya ukuran foto akan merepotkan saat sekedar melihat di komputer atau melakukan olah digital. Tapi apa mau dikata, bila anda penasaran mengenali kamera saku baru dengan sensor 16 MP, inilah diantaranya : Continue reading Kamera saku tahun 2011 kini pakai sensor 16 MP

Era 3D telah tiba, sudah siapkah kita menyambutnya?

Era gambar atau video tiga dimensi (3D) sudah tiba. Awalnya kita harus menyaksikan tayangan 3D di bioskop tertentu dengan materi film tertentu juga. Kini era 3D sudah lebih personal, alias bisa kita miliki dan kita nikmati di rumah. Era 3D yang lebih personal ditandai dengan mulai dipasarkannya kamera 3D, proyektor 3D, televisi 3D, game console 3D bahkan bingkai foto 3D dengan berbagai bentuk dan merk. Masuknya dunia imaging ke era 3D saya anggap memang sudah waktunya mengingat teknologi pendukung untuk itu sudah matang dan era 2D sudah ‘mentok’ tanpa banyak bisa disempurnakan lagi. Resolusi kamera foto sudah amat tinggi dengan belasan mega piksel, resolusi kamera video sudah sangat detail dengan HD 1080, namun dengan masih mengusung konsep 2D maka detail yang ada tidak berdimensi alias datar. Era 3D ini akan membawa perubahan banyak dalam dunia imaging, baik foto maupun video. Continue reading Era 3D telah tiba, sudah siapkah kita menyambutnya?

Sepuluh kamera saku superzoom baru di 2010

Berapa kemampuan lensa zoom pada kamera saku anda? Tiga, empat, atau lima kali zoom optik? Apakah anda merasa kemampuan tele dari kamera anda masih kurang? Bayangkan bila anda memiliki sebuah kamera saku yang mungil namun memiliki lensa yang zoomnya panjang. Berkat kemampuan manufaktur lensa modern, kini sebuah kamera saku bisa memiliki lensa yang sangat fleksibel yang mampu menjangkau area wide (sekitar 25mm) hingga ekstra tele (250mm bahkan lebih) atau bisa dibilang lensa superzoom (10x zoom optikal, bahkan lebih). Continue reading Sepuluh kamera saku superzoom baru di 2010