Panasonic Lumix FZ200, kamera superzoom lensa f/2.8 konstan

Di tengah banyaknya kamera baru bermunculan, ada keraguan di benak saya apakah kamera superzoom masih bisa bertahan? Upaya untuk tetap menarik minat pembeli sudah dilakukan oleh berbagai vendor dan yang paling gampang dilakukan sejauh ini adalah menambah panjang lensanya. Kamera superzoom memang didesain untuk bisa menjangkau fokal tele yang ekstra panjang, misalnya diatas 300mm. Permasalahannya adalah, sampai sebatas mana tele yang dianggap cukup buat kebanyakan orang? 500mm, 600mm, atau lebih? Nikon bahkan membuat kamera Coolpix P510 dengan lensa hingga 1000mm, siapa tahu karenanya lantas orang tertarik untuk membeli.  Continue reading Panasonic Lumix FZ200, kamera superzoom lensa f/2.8 konstan

Daya tarik si titik merah

Leica_logoTanggal 9 September 2009 kemarin, si titik merah (Leica) meluncurkan dua kamera canggih baru. Kamera kamera itu adalah Leica M9 dan kamera ringkas Leica X1. Leica M9 adalah kamera digital rangefinder (bukan SLR), artinya, fotografer tidak melihat subjek langsung dari lensa, tapi melalui ruang bidik terpisah. Continue reading Daya tarik si titik merah

Lumix DMC-GF1 : jawaban Panasonic untuk Olympus E-P1

Sukses Olympus menghadirkan kamera saku bersensor Four Thirds (4/3) yang bernama E-P1 (digital pen) rupanya membuat Panasonic juga harus meladeni mitranya dalam konsorsium Micro Four Thirds ini dengan produk sejenis. Sebelumnya format Micro Four Thirds diwujudkan oleh Panasonic dalam bentuk SLR-like (seperti G1 dan GH1) sehingga tujuan  utama format Micro 4/3 menciptakan miniaturisasi kamera DSLR pun dianggap belum tercapai. Kini Panasonic menghadirkan kamera saku bersensor 4/3 dengan nama Lumix GF1. Bayangkan kualitas sensor DSLR yang tertanam pada kamera yang desain bodinya seperti Lumix LX3, dengan lensa yang bisa dilepas, didukung oleh kinerja Venus HD engine dan punya fitur super lengkap, semua terpadu di kamera seharga 9 juta ini. Continue reading Lumix DMC-GF1 : jawaban Panasonic untuk Olympus E-P1

Kamera digital favorit saya di 2009

Tiba saatnya saya menuliskan jajaran kamera digital yang jadi favorit saya di tahun 2009 ini. Sebagai disclaimer, saya nyatakan kalau daftar yang saya buat ini murni merupakan opini pribadi dan bukan merupakan rekomendasi atau panduan belanja untuk pembaca. Anda belum tentu mesti sependapat dengan saya dan adalah wajar  bila diantara kita punya kamera favorit yang berlainan. Di daftar ini saya masih menyusun kamera yang saya favoritkan berdasar kelompok (DSLR, prosumer dan kamera saku), yang masing-masing diisi oleh tiga kamera yang paling saya sukai di tiap kelompok disertai alasan dan fitur singkatnya. Continue reading Kamera digital favorit saya di 2009

Lumix baru dengan Power OIS : DMC-FZ35, DMC-ZR1 dan DMC-FP8

Hari ini Panasonic meluncurkan kamera Lumix baru sebagai andalannya untuk terus bersaing dengan merk lain. Jajaran kamera Lumix dikenal punya kualitas lensa Leica, spesifikasi tinggi dan inovasi yang menjadi trendsetter. Dalam mendesain kameranya, Lumix pun punya kekhasan dengan tiap produk yang punya ciri dan keunikan tersendiri. Seperti halnya tiga kamera yang hari ini diluncurkan, semuanya punya kekhasan yang ditujukan untuk segmentasi pasar yang berbeda. Ada kamera yang berjenis prosumer hybrid, ada kamera saku berlensa sangat wide 25mm dan ada kamera saku berlensa folded-optic. Panasonic menjanjikan kinerja Auto Focus yang lebih cepat di jajaran kamera terbarunya ini. Fitur lain yang jadi andalan Lumix di kamera barunya adalah Power OIS dengan kemampuan dua kali lebih handal dari Mega OIS dalam mengatasi handshake/getaran tangan yang membuat foto jadi blur. Continue reading Lumix baru dengan Power OIS : DMC-FZ35, DMC-ZR1 dan DMC-FP8

Sepuluh kamera saku favorit saya di 2009

Adalah hal yang umum kita jumpai saat ini bila kamera digital jenis pocket/saku telah digunakan secara luas oleh berbagai kalangan masyarakat. Memotret tanpa film sudah dirasakan sebagai suatu kenikmatan dan kebutuhan semua orang, dan hasil foto yang cukup bagus sudah bisa didapat dari sebuah kamera digital saku yang harganya terjangkau. Tidak semua orang perlu akan kamera serius seperti kamera prosumer atau kamera DSLR, karena toh targetnya mungkin hanya untuk dokumentasi sehari-hari saja, dari sekedar berbagi di blog atau situs jejaring sosial hingga dicetak ukuran postcard. Untuk itu kamera saku masih menjadi favorit banyak orang berkat kemudahan pemakaiannya, hasil fotonya dan harganya yang terjangkau. Bahkan kamera saku masih menjadi penyumbang utama pundi-pundi uang para produsen kamera digital, mengalahkan kamera kelas serius yang mahal namun tidak selaris kamera saku. Continue reading Sepuluh kamera saku favorit saya di 2009