Fitur Scene Mode, Creative Auto dan Live View di DSLR Canon

Hobi motret sudah jadi keseharian kita semua, minimal dengan modal ponsel saja kita sudah bisa ambil foto dan video. Buat anda yang sudah punya DSLR, tentu hobi motret ini bisa ditingkatkan jadi hobi fotografi yang lebih serius, misal dengan belajar dasar fotografi terlebih dahulu. Tapi kamera DSLR bukanlah alat yang selalu harus dipakai dengan serius, seiring tren yang ada, dia semakin mudah dan fun (menyenangkan) untuk dipakai.

Scene Mode

Lho, bukannya DSLR itu kita perlu banyak tahu soal hal-hal teknis seperti eksposur, fokus, WB dan banyak lagi? Iya betul, tapi produsen DSLR juga menyadari, banyak pemula/awam yang beli DSLR dan bakal kasihan kalau harus paham dulu semuanya baru bisa memotret. Untuk itulah disediakan beberapa mode-mode bantuan seperti Scene Mode (khususnya di DSLR pemula) dan akan lebih maksimal bila dipakai dalam mode live-view.

P1090807 potraitBagi para fotografer, Scene Mode mungkin tidak pernah dipakai. Tapi bagi pemula sekali, sambil anda belajar fotografi, tidak ada salahnya memanfaatkan bantuan yang disediakan kamera. Intinya dengan Scene Mode kita tinggal menyesuaikan situasi/skenario apa yang kita akan foto dan mencari mode yang tepat di kamera kita. Continue reading Fitur Scene Mode, Creative Auto dan Live View di DSLR Canon

Nikon D5500 hadir, inilah opini dan kritik saya untuk Nikon

Kabar baru di awal tahun 2015, Nikon baru saja meluncurkan kamera DSLR bernama D5500. Kamera ini berada di segmen market upper entry level, sebagai pendamping dari D3300 di lini basic entry level, dan berada di bawah Nikon D7100 sebagai enthusiast level (yang kadang juga dipakai oleh semi-profesional). Dengan kata lain D5500 berada di tengah-tengah, tidak basic banget dan tidak yang kelas menengah atas juga. Nikon D5500 (dan pendahulunya yaitu D5300, D5200, D5100 dan D5000) bisa jadi adalah kamera yang disukai banyak orang, atau malah mungkin kurang diminati. Alasan yang suka biasanya karena mereka mencari kamera kecil, ringan tapi sarat fitur. Alasan yang tidak suka karena harganya tanggung, tambah dikit dapat kamera yang kelasnya lebih diatas.

521480_562252320474692_1203470364_nSaya sendiri sejak tahun 2007 sudah pakai DSLR Nikon, terakhir sampai saat ini masih pakai DSLR Nikon lama yaitu D5100 beserta aneka lensa-lensanya. Sekedar mengamati peningkatan yang dibuat Nikon, maka saya pantau apa saja yang berubah saat hadir D5200, lalu D5300 dan kini D5500, siapa tahu saat nanti mau upgrade saya punya pilihan yang cocok. Nah D5500 ini diatas kertas oke lah, fitur-fiturnya sudah lumayan. Tapi saya malah tergerak untuk bikin tulisan ini yang lebih mengekspos kritikan saya terhadap Nikon D5500. Lho?

Semakin tinggi pohon semakin besar anginnya. DSLR harga 5 jutaan terlalu ‘kasihan’ kalau dikritik. Tapi D5500 di awal peluncurannya dijual seharga 10 juta bodi saja, maka wajar kalau saya (dan jutaan orang di dunia) akan membandingkan D5500 ini dengan kamera apapun yang harganya setara, atau mungkin dibawahnya, kemudian memberi kritikan bila ditemui ada yang kurang. Bahkan D5500 tentu akan dibandingkan dengan D5300 yang masih tergolong baru juga. Penamaan D5500 juga saya pikir cukup membingungkan, apalagi bagi mereka yang belum paham filosofi perusahaan Jepang yang alergi dengan angka 4. Kalau saya jadi orang Nikon sih sebetulnya gak perlu diberi nama D5500, cukup kasih nama D5300t saja (t artinya touchscreen 🙂 )

D5500

Ya, headline dari D5500 adalah layar sentuhnya (akhirnya..). Walau Nikon D5500 ini adalah penerus dari D5300 tapi spek keduanya masih sangat-sangat mirip : sensor 24 MP tanpa Optical Low Pass Filter (ini sudah bagus, gak ada komplain), modul AF 39 titik (ini juga oke) dan 5 fps shot kontinu. Prosesor keduanya juga sama yaitu Expeed 4. Seri D5000-an ini dari generasi awal hingga saat ini juga punya beberapa kekurangan yang tidak akan saya komplain, seperti tidak ada motor fokus (sekarang sudah banyak lensa AF-S), tidak ada weathersealed (ini kan kamera kelas consumer) dan tidak ada LCD kecil di atas (tidak ada tempatnya juga).

Continue reading Nikon D5500 hadir, inilah opini dan kritik saya untuk Nikon

Perbandingan fitur Canon 650D dan Nikon D5200, manakah yang terbaik di kelas DSLR pemula?

Inilah duel lanjutan kamera DSLR di kelas pemula atas, setelah duel serupa terjadi tahun lalu. Nikon D5200 datang bulan ini menantang Canon EOS 650D yang sudah duluan hadir beberapa bulan lalu. Segmen pemula atas selalu menarik untuk dibahas, karena kamera di segmen ini masih cukup terjangkau tapi fiturnya sudah berlimpah dan bisa jadi karenanya orang tidak lagi tertarik membeli kamera yang kelasnya lebih mahal. Baik Nikon D5200 maupun Canon 650D termasuk sudah matang dalam evolusi, dimana D5200 meregenerasi kamera sebelumnya yaitu D5100 dan D5000 sedangkan EOS 650D menjadi produk penerus dari 600D, 550D, 500D dan seterusnya. Continue reading Perbandingan fitur Canon 650D dan Nikon D5200, manakah yang terbaik di kelas DSLR pemula?

Tentang fitur video pada kamera DSLR

Coba simak fitur apa yang ditonjolkan saat kamera-kamera DSLR baru bermunculan? Bukan lagi fitur tentang foto (karena teknologi fotografi digital sudah sangat baik) tapi fitur video lah yang digembar-gemborkan. Hal ini memang agak terkesan dipaksakan karena mayoritas orang membeli DSLR untuk memotret, bukan untuk merekam video. Peningkatan fitur video di DSLR akan membuat harga kamera tersebut jadi tinggi, padahal belum tentu semua orang akan memakai fitur video itu. Continue reading Tentang fitur video pada kamera DSLR

Untung rugi fitur movie pada kamera DSLR

Sejak Nikon D90 memperkenalkan fitur movie pada tahun 2008 silam, kini tren fasilitas perekam video pada kamera  DSLR tampaknya menjadi hal yang wajib. Mulai dari DSLR termurah seperti Pentax K-x hingga Nikon D3s dan Canon EOS 1D mark IV, semuanya kini berlomba-lomba menambah fitur HD movie. Padahal di masa lalu, fungsi kamera DSLR sebagai kamera serius hanya ditujukan untuk memotret tanpa pernah terbayang akan menjadi perekam video. Jangankan untuk video, bahkan DSLR era tahun 2007 pun belum bisa live-view sehingga LCD hanya bisa dipakai untuk menampilkan setting dan hasil foto saja. Dengan kenyataan saat ini dimana konvergensi teknologi sudah tak terelakkan lagi, haruskah kita bertahan pada opini lama yang menentang fitur movie pada DSLR? Paling tidak, inilah analisa saya mengenai untung rugi adanya fitur movie pada DSLR.

Continue reading Untung rugi fitur movie pada kamera DSLR

Apakah Pentax akan bertahan?

Halo semua, saya tidak tahu bagaimana antusiasme di Indonesia mengenai Pentax, tapi saya pikir ini cukup penting dan menarik untuk ditulis. Tulisan ini juga di muat di blog saya radiantlite tapi dalam  bahasa Inggris.

Hari ini banyak pergunjingan tentang K7, kamera baru Pentax di internet. Gunjingan ini berasal dari beberapa forum terkenal dan kemudian dilaporkan kembali oleh RiceHigh, seorang pengamat Pentax melalui blognya. Dia melaporkan bahwa beberapa pengguna pertama K7 memiliki masalah dengan kamera tsb. Ada yang layar LCD-nya menampilkan gambar yang terpisah, dan juga ada kamera yang hasil fotonya tidak tajam dan noisenya sangat tinggi dibanding kamera versi sebelumnya. Continue reading Apakah Pentax akan bertahan?