Sepuluh kamera saku favorit saya di 2009

Adalah hal yang umum kita jumpai saat ini bila kamera digital jenis pocket/saku telah digunakan secara luas oleh berbagai kalangan masyarakat. Memotret tanpa film sudah dirasakan sebagai suatu kenikmatan dan kebutuhan semua orang, dan hasil foto yang cukup bagus sudah bisa didapat dari sebuah kamera digital saku yang harganya terjangkau. Tidak semua orang perlu akan kamera serius seperti kamera prosumer atau kamera DSLR, karena toh targetnya mungkin hanya untuk dokumentasi sehari-hari saja, dari sekedar berbagi di blog atau situs jejaring sosial hingga dicetak ukuran postcard. Untuk itu kamera saku masih menjadi favorit banyak orang berkat kemudahan pemakaiannya, hasil fotonya dan harganya yang terjangkau. Bahkan kamera saku masih menjadi penyumbang utama pundi-pundi uang para produsen kamera digital, mengalahkan kamera kelas serius yang mahal namun tidak selaris kamera saku. Continue reading Sepuluh kamera saku favorit saya di 2009

Lumix TZ7 vs Canon SX200 IS, adu dua super-zoom mungil

sx200_tz7Pada awalnya menginginkan sebuah kamera saku yang bisa punya lensa super panjang mungkin terdengar seperti sebuah mimpi. Kamera saku yang berukuran mungil, pocketable dan bisa dioperasikan dengan satu tangan seakan sudah ditakdirkan untuk punya lensa yang biasa saja dengan rentang fokal standar sekitar 35-105mm atau 3x zoom optik. Untuk fokal lensa lebih dari itu kita perlu kamera yang ukurannya lebih besar, lensa lebih besar dan harga yang lebih mahal. Namun untunglah kini inovasi lensa dan terobosan desain kamera telah mengantarkan kamera saku kepada batas baru yang sebelumnya tidak mungkin, yaitu lensa berkemampuan zoom tinggi dalam ukuran yang mungil. Continue reading Lumix TZ7 vs Canon SX200 IS, adu dua super-zoom mungil

Lebih jauh dengan lensa tele

Apa yang anda bayangkan saat mendengar istilah lensa tele untuk kamera DSLR? Mungkin anda akan terbayang pada lensa besar dan berat seperti yang biasa dipakai para profesional. Sebenarnya apa bedanya lensa tele di kamera saku dan kamera DSLR? Mengapa kamera saku bisa punya lensa yang demikian panjang namun ukurannya kecil, sementara lensa tele untuk kamera DSLR punya rentang fokal yang tampak biasa saja namun ukurannya (dan harganya) luar biasa? Apa saja kiat-kiat memotret memakai lensa tele? Simak semuanya di tulisan kali ini. Continue reading Lebih jauh dengan lensa tele

Olympus E620 : Saingan berat Canon 450D

Olympus E-620 (with battery grip)
Olympus E-620 (with battery grip)

Oke, kita kembali ke arena DSLR. Meski Canon belum meluncurkan kamera penerus EOS 450D (yang diramalkan akan bernama EOS 500D), namun tak bisa dipungkiri kedigjayaan EOS 450D masih belum terpatahkan di jajaran kamera DSLR entry level. Mungkin inilah alasan yang melandasi Olympus meluncurkan penerus dari E-520 yang bernama E-620 dengan resolusi 12 MP. Continue reading Olympus E620 : Saingan berat Canon 450D

Flashback : kamera saku lawas nan berkualitas

Bosan dengan banjirnya produk kamera baru yang desain dan speknya begitu-begitu saja? Ingin tahu kamera-kamera saku lawas yang menurut saya punya kualitas yang oke dan patut untuk dikenang? Kali ini saya sajikan daftar kamera saku lawas (buatan sekitar tahun 2004-2007) yang amat diperhitungkan pada masanya, dan mendapat pengakuan banyak kalangan akan kualitas ataupun inovasinya. Siapa tahu tulisan ini bisa menginspirasi anda, atau bolehlah untuk sekedar membantu anda bernostalgia. Atau bahkan siapa tahu anda tengah mencari kamera saku bekas dan ternyata salah satunya ada pada daftar kamera di artikel kali ini. Continue reading Flashback : kamera saku lawas nan berkualitas

Fokal lensa yang tidak umum : Saat yang tidak mungkin menjadi mungkin

Coba cek kamera anda, berapa panjang fokal lensa zoomnya? Kamera saku umumnya punya panjang fokal 35mm sampai 105mm, atau 3x optical zoom. Kalau anda beruntung punya kamera saku yang lensanya wide, panjang fokalnya akan bermula dari 28mm, dimana dengan 28mm ini sudah amat mencukupi untuk kebutuhan wide angle sehari-hari. Continue reading Fokal lensa yang tidak umum : Saat yang tidak mungkin menjadi mungkin