Review kamera mirrorless Samsung NX300

Dalam rangka acara workshop Samsung NX di Bandung kemarin, saya berkesempatan untuk mencoba kamera mirrorless Samsung NX300 dengan beberapa lensanya seperti lensa kit 18-55mm OIS, lensa tele 55-200mm OIS dan lensa fix 45mm f/1.8 selama beberapa hari. Kamera ukuran kompak ini membuat saya antusias karena fitur yang ditawarkan cukup banyak seperti sensor APS-C 20 MP, kemampuan burst 8,6 foto per detik, auto fokus hybrid dan layar Amoled yang touch-sensitive.

Samsung NX300

Desain kamera Samsung NX300 mengesankan sebuah perpaduan antara desain modern dan klasik dengan bagian atasnya berbahan logam dan bodinya berbungkus karet hitam bertekstur, bagian belakang dominan plastik. Saya suka grip kamera ini yang cukup besar sehingga aman digenggam tanpa takut meleset. Roda mode kamera (PASM dsb) ditempatkan di pojok atas kanan yang saya rasa tepat, tapi roda untuk mengganti setting saya rasa terlalu kecil dan bahannya plastik. Disertakan juga sebuah flash eksternal yang kecil dan mengambil tenaga dari baterai kamera, lalu sebuah kabel charger mirip seperti charger ponsel yang langsung dicolok ke port USB kamera (in-camera charging).

Samsung NX300 back flip

Layar Amoled 3 inci yang berjenis touch sensitive di kamera ini bisa dilipat ke atas dan ke bawah untuk komposisi foto dengan sudut yang sulit. Warna dan kejernihan layar sangat baik, demikian juga dengan kepekaan layar terhadap sentuhan. Kita bisa mengatur setting kamera, memilih titik fokus hingga memotret dengan menyentuh layar. Saat melihat hasil foto, seperti di ponsel Android misalnya, kita bisa pinch (cubit) layar untuk zoom dan geser jari di layar untuk berganti foto. Sayangnya tidak ada jendela bidik elektronik di kamera ini, ataupun aksesori jendela bidik eksternal yang dibuat oleh Samsung, sehingga setiap saat untuk komposisi foto mengandalkan layar utama saja (yang akan lebih menguras baterai). Untungnya karena layar berjenis Amoled maka tetap terlihat jelas walau dipakai dibawah cahaya matahari yang menyorot dari atas. Continue reading Review kamera mirrorless Samsung NX300

Adu 3 tablet branded 7 inci terjangkau : Acer Iconia B1 vs Asus Memopad 7 vs Samsung Tab 2

Kali ini saya akan menyoroti tiga produk tablet branded yang harganya terjangkau, beda-beda tipis sama tablet buatan China. Ketiganya punya persamaan ciri seperti layar 7 inci, tidak bisa telepon (WiFi saja) dan menyasar segmen pemula (fiturnya tidak terlalu kelas atas). Seperti apa hasil komparasi saya?

Sebelumnya anda mungkin berpendapat kalau tablet itu tanpa fitur selular seakan kurang optimal. Ada benarnya juga, karena tablet yang bisa dipasang SIM card pasti bisa lebih banyak berguna seperti untuk telepon, SMS dan internet 3G. Tapi ingat juga kalau fungsi tablet pada dasarnya berbeda dengan fungsi telepon. Bila tablet digabungkan dengan fitur 3G maka baterai tablet akan bekerja lebih keras, dan tentunya harus sering dicharge setiap hari. Maka itu keuntungan tablet dengan WiFi saja adalah hemat baterai, apalagi kalau WiFi dimatikan. Lagipula saat ini sudah banyak spot WiFi dimana-mana, dan bukan hal sulit membuat jaringan WiFi personal di rumah. Continue reading Adu 3 tablet branded 7 inci terjangkau : Acer Iconia B1 vs Asus Memopad 7 vs Samsung Tab 2

Komparasi empat kamera saku premium harga ‘terjangkau’

Kalau di era sekarang bicara kamera saku, yang terbayang mungkin adalah kamera harga 1 jutaan yang hasil fotonya kerap mengecewakan, dan cuma bisa auto mode. Daripada bawa-bawa kamera saku, anda mungkin lebih suka memotret pakai ponsel cerdas yang lebih praktis. Tapi tidak selalu demikian lho. Kamera saku juga punya beberapa kasta, dari yang murah sampai yang mahal banget. Untuk mereka yang mengejar kualitas (khususnya dalam hal lensanya), kemudahan pemakaian dan kendali manual, tersedia juga kamera saku kelas premium yang harganya bisa disetarakan dengan sebuah kamera DSLR termurah. Wow..

Saya akan mengupas kamera saku premium yang masih punya segmen tersendiri, baik di kalangan fotografer maupun kaum menengah. Dengan harga jual yang tinggi, kamera saku premium memang sulit untuk bisa laris manis di pasaran. Maka itu kini banyak produsen kamera saku premium yang membuat produk versi hemat, dengan mengurangi beberapa fitur yang tidak diperlukan (untuk menekan biaya) namun sebisa mungkin tetap mempertahankan ciri kamera saku premium.

Apa saja ciri dari kamera saku premium? Walau tidak ada teorinya, saya simpulkan sendiri kalau kamera saku di segmen premium utamanya punya lensa yang bukaannya besar. Ini penting karena sebisa mungkin kamera saku bisa memasukkan banyak cahaya guna menghindari pakai ISO tinggi. Kita ingat bahwa kamera saku yang kecil tentu sensornya juga kecil, sehingga tidak berdaya di ISO tinggi. Maka itu kamera saku premium dibuat dengan lensa yang 1 stop lebih besar dari kamera saku lain, misal f/2.0 atau bahkan f/1.8.

Selain itu kamera saku premium punya mode manual untuk mengakomodir kebutuhan fotografi yang beragam. Setidaknya dengan bisa mengatur nilai bukaan dan shutter, kamera saku bisa juga dijadikan cadangan untuk melengkapi DSLR saat bekerja atau travelling. Bahkan sekarang sudah jadi tren ada ring di lensa yang bisa diputar, kendali ini bisa diatur untuk berbagai pengaturan seperti bukaan, zoom, kompensasi eksposur dan sebagainya. Fitur lain yang sudah jadi standar diantaranya stabilizer, HD movie dan LCD resolusi tinggi yang lebih detail. Continue reading Komparasi empat kamera saku premium harga ‘terjangkau’

Review : Samsung Galaxy Ace (GT-S5830)

Inilah review yang saya buat untuk produk smartphone dari Samsung yang bernama Galaxy Ace (GT-S5830) yang dibekali dengan OS Android 2.2 (Froyo) dengan harga jual saat ini 2,8 2,5 jutaan. Galaxy Ace sendiri merupakan produk unggulan Samsung saat perusahaan Korea tersebut di awal tahun 2011 lalu mengumumkan kehadiran empat ponsel Android kelas terjangkau yaitu Galaxy Ace, Galaxy Fit, Galaxy Gio dan Galaxy Mini. Keempatnya punya kesamaan dalam berbagai spesifikasi seperti OS Froyo (2.2.1) dan sudah mendukung koneksi HSDPA. Seperti apa ponsel cerdas dengan harga dibawah 3 juta ini mampu membuat anda terkesan? Simak review saya selengkapnya. Continue reading Review : Samsung Galaxy Ace (GT-S5830)

Huawei Ideos Android CDMA cuma 1,5 juta

Huawei Ideos adalah nama produk ponsel pintar dengan OS Android Froyo yang baru saja masuk ke pasaran Indonesia dengan harga jual cuma 1,5 juta. Di luar negeri, produk ini telah berhasil meraih ”Top Phones 2010” dari CNET Australia dan ”The Most Stylish Design – Digital Media Merit Award Asia” dari Devnet Shanghai, China. Untuk market dalam negeri Ideos hanya tersedia untuk jaringan CDMA dan ditawarkan oleh AHA dengan nama AHAtouch. Ponsel dengan lima pilihan warna ini sama seperti Android lainnya dengan berbagai fitur dan dukungan aplikasi berlimpah.

Continue reading Huawei Ideos Android CDMA cuma 1,5 juta

Empat Galaxy Froyo baru dari Samsung

Samsung belum lama ini kembali membanjiri pasar smartphone dengan mengumumkan empat ponsel baru yang termasuk dalam keluarga besar Galaxy yang telah dibekali OS Froyo (Android 2.2). Padahal belum lama berselang, Samsung Galaxy 551 yang juga memakai Froyo mulai dipasarkan di tanah air. Apapun itu, sambutlah keluarga baru dari Galaxy yaitu Samsung Galaxy Ace, Galaxy Fit, Galaxy Gio dan Galaxy Mini yang semuanya disesuaikan dengan selera, keperluan dan budget masing-masing pengguna. Hebatnya, keempat ponsel cerdas ini sudah mengusung konektivitas lengkap berupa HSDPA dan Wi-Fi b/g/n dan fitur lengkap seperti TouchWiz 3.0 UI, accelerometer, proximity sensor, Swype dan document viewer/editor.

 

Dari kiri ke kanan : Galaxy Ace, Galaxy Fit, Galaxy Gio dan Galaxy Mini

Continue reading Empat Galaxy Froyo baru dari Samsung