Lebih jauh dengan lensa tele

2009 April 22
by Mas Gaptek

Apa yang anda bayangkan saat mendengar istilah lensa tele untuk kamera DSLR? Mungkin anda akan terbayang pada lensa besar dan berat seperti yang biasa dipakai para profesional. Sebenarnya apa bedanya lensa tele di kamera saku dan kamera DSLR? Mengapa kamera saku bisa punya lensa yang demikian panjang namun ukurannya kecil, sementara lensa tele untuk kamera DSLR punya rentang fokal yang tampak biasa saja namun ukurannya (dan harganya) luar biasa? Apa saja kiat-kiat memotret memakai lensa tele? Simak semuanya di tulisan kali ini.

From : photographyblog.com

From : photographyblog.com

Lensa tele bisa diartikan lensa yang memiliki panjang fokal yang mampu menjangkau bidang gambar yang jauh dari kamera. Manfaatnya tentu  jelas, kita bisa memotret sesuatu tanpa kita harus mendekat, seperti saat memotret konser, satwa liar atau event olah raga. Selain itu, bila lensa wide punya angle-of-view lebar sehingga kita bisa memasukkan objek dan lingkungan sekitarnya, maka lensa tele justru sebaliknya. Dengan lensa tele, berkat kemampuan pembesaran lensanya, kita seakan dimudahkan untuk mengisolasi objek dari lingkungannya. Untuk itu lensa tele juga kadang digunakan sebagai lensa potret yang bisa membuat isolasi objek dengan latar blur. Pada dasarnya lensa tele itu memiliki panjang fokal tertentu (seperti 200mm, 300mm dsb) yang mewakili angle-of-view tertentu juga. Semakin panjang fokal lensanya maka semakin sempit area yang dicover dan semakin tinggi pula kemampuan pembesaran lensa tersebut. Namun kita lebih terbiasa dan lebih menyukai lensa tele masa kini yang mempunyai panjang fokal yang bervariasi, atau biasa disebut lensa tele zoom. Contohnya seperti lensa 70-200mm, 100-300mm atau 200-400mm. Untuk itu, istilah lensa tele yang saya pakai di artikel kali ini adalah lensa tele zoom / variabel fokal.

Kamera saku memiliki lensa zoom yang dianggap mencukupi untuk mengakomodasi kebutuhan wide hingga tele sehari-hari. Sebuah kamera saku 3x zoom optik pun dianggap sudah mewakili tiga kebutuhan : wide (biasanya 28-35mm) untuk landscape dan arsitektur, normal (50mm) untuk potret dan tele (100mm atau lebih) untuk kebutuhan tele-fotografi. Sebuah kamera saku modern bahkan punya kemampuan tele yang tinggi hingga 300mm dalam ukuran yang kompak dan kecil. Hal ini dimungkinkan karena pada kamera saku, sensor yang dipakai berukuran kecil sehingga tidak diperlukan lensa berdiameter besar. Maka itu lensa pada kamera saku bisa dibuat dengan diameter kecil dan otomatis ukurannya pun menjadi kecil. Selain itu lensa berukuran kecil lebih murah dalam proses produksinya sehingga wajar bila ada sebuah kamera saku yang berlensa 28-300mm dijual seharga 4 juta.

Pada kamera DSLR, pilihan lensa tele bervariasi tergantung kebutuhan akan rentang tele-nya. Begitu banyak macam lensa tele di pasaran dengan spesifikasi dan harga yang amat bervariasi, membuat kita terkadang bingung saat ingin menjatuhkan pilihan. Untuk itu kali ini kita akan mengenali lebih jauh mengenai lensa tele dan tips pemakaiannya.

Lensa tele untuk memotret satwa

Lensa tele untuk memotret satwa

Pertama dan utama, kenali dulu tipikal atau gaya memotret anda. Bila anda menyukai memotret sesuatu dari kejauhan, atau senang mengisolasi objek sehingga tiap orang yang melihat foto anda akan langsung tertuju pada objek tersebut, tentu lensa tele adalah pilihan yang tepat. Selanjutnya kenali dulu peralatan lensa yang sudah anda punyai. Adalah kurang tepat bila anda ingin memiliki lensa tele namun saat ini anda belum punya lensa apapun. Lensa tele umumnya dimiliki oleh seseorang yang minimal telah mempunyai sebuah lensa kit. Setelah itu tentukan apakah anda perlu lensa tele yang bukaan konstan atau cukup dengan bukaan variabel (bukaan diafragma yang tidak konstan). Anda tentu masih ingat, lensa zoom bukaan variabel artinya semakin lensa itu di-zoom maka bukaan maksimalnya akan semakin mengecil. Lensa semacam ini memungkinkan desain yang lebih mudah dan ukuran lebih kecil daripada lensa tele zoom bukaan konstan.

Lensa tele untuk konser

Nikkor AF-S 55-200mm VR (1/80s, f/4.5, ISO 800)

Bagaimana kita bisa tahu jenis lensa manakah yang kita butuhkan? Idealnya, setiap lensa zoom itu memiliki bukaan konstan sehingga di posisi fokal berapapun si diafragma lensa akan mampu membuka dengan bukaan yang tetap sama. Ada dua macam lensa tele bukaan konstan yang biasa ditemui yaitu lensa bukaan konstan besar (f/2.8) yang mahal dan lensa bukaan konstan agak kecil (f/4) yang lebih terjangkau. Sebagai contoh adalah lensa Nikon 70-200mm f/2.8 dan lensa Canon 70-200mm f/4. Lensa dengan bukaan maksimum f/2.8 tentu mampu memasukkan cahaya lebih banyak sehingga memungkinkan pemakaian shutter yang lebih cepat dari lensa f/4. Selain itu lensa dengan bukaan lebih besar tentu bisa menghasilkan bokeh yang lebih indah. Namun lensa bukaan konstan punya dimensi yang besar dan bobot yang berat, karena kompleksnya susunan lensa di dalamnya. Untuk itu bagi yang merasa ‘keberatan’ dengan harga dan bobot dari lensa tele bukaan konstan, tersedia lensa bukaan variabel semisal 70-300mm f/4.5-5.6 yang menandakan bukaan maksimum di 70mm adalah f/4.5 dan saat 300mm mengecil ke f/5.6. Lensa jenis ini amat populer karena harganya yang relatif terjangkau dan ukurannya yang lebih kecil dibanding lensa bukaan konstan. Maka itu pilihan tentu lebih diarahkan pada budget yang ada dan seberapa mau kita memakai lensa yang besar dan berat. Ingat kalau pada fokal yang sama, lensa bukaan variabel pun memiliki jangkauan tele yang sama dengan lensa bukaan konstan.

Tentu saja memiliki lensa bukaan variabel punya kompromi yang harus diterima, utamanya dalam hal kemampuan lensa memasukkan cahaya. Harap diingat kalau lensa tele sangat memerlukan shutter cepat untuk mengkompesasi hand-shake supaya hasil foto tidak blur. Teorinya adalah satu per panjang fokal lensa, misal anda memakai lensa tele 300mm maka anda perlu perlu speed setidaknya 1/300 detik untuk mencegah blur. Tidak mudah mendapat situasi ideal yang mampu membuat kamera bisa memakai speed 1/300 detik, kecuali anda berada di luar ruangan di saat siang hari bolong. Dengan bukaan maksimal yang hanya berkisar di f/5.6 misalnya, di saat cahaya sedang kurang mencukupi, shutter kamera akan drop sehingga rentan terjadi blur (padahal bila memakai lensa f/2.8 maka shutter bisa dibuat lebih cepat). Untuk itu kompromi yang harus diterima saat memakai lensa bukaan variabel adalah lensa tersebut kurang cocok dipakai di low-light. Karena saat memakai lensa bukaan variabel, anda harus dapat banyak cahaya untuk bisa mendapat shutter tinggi (biasanya siang hari), atau anda boleh memaksakan memotret dengan cahaya kurang namun dengan resiko blur.

Contoh lensa tele zoom : Nikon 70-300mm

Contoh lensa tele zoom : Nikon AF-S 70-300mm VR

Namun bagi pemilik lensa tele ekonomis dengan bukaan variabel tidak perlu berkecil hati. Setidaknya ada tiga hal yang bisa diupayakan untuk mengatasi dilema tersebut. Bahkan, tiga hal ini tidak ada salahnya juga dilakukan oleh mereka yang memakai lensa bukaan konstan, karena resiko blur karena hand-shake selalu ada meski memakai lensa apapun.

  • Gunakan stabilizer. Inilah teknologi yang mampu mendeteksi getaran tangan dan mengkompensasinya sehingga kita bisa memotret dengan speed yang lebih rendah (hingga 3 stop). Maksudnya 3 stop begini : bila untuk mencegah blur anda sebelumnya perlu speed 1/200 detik tanpa IS, maka dengan IS anda bisa memotret tanpa blur dengan speed 1/100 detik (turun 1 stop) -> 1/50 detik (turun 2 stop)-> 1/25 detik (turun 3 stop). Stabilizer akan terasa manfaatnya terutama saat memakai lensa tele, dimana sebuah lensa 55-200mm tanpa stabilizer akan membuat pemakainya tidak PD saat memotret dengan speed dibawah 1/200 detik. Stabilizer di lensa (IS untuk Canon dan VR untuk Nikon) lebih efektif bila dibanding dengan stabilizer pada bodi (IS di Olympus, AS di Pentax dan Steady Shot di Sony) yang bekerja dengan menggerakkan sensor. Ingat juga kalau stabilizer hanya menolong mencegah blur karena getaran tangan dan bukan blur karena gerakan objek saat speed kurang tinggi.
  • Gunakan ISO tinggi. Kamera DSLR punya kemampuan mengatasi noise yang baik di ISO tinggi, lalu mengapa takut memakai ISO tinggi? Kombinasi antara stabilizer dan ISO tinggi (bila perlu) sangat baik karena bisa didapat speed yang tinggi sehingga resiko blur dapat diminimalisir. Bila lensa tele anda (dan bodi DSLR anda) tidak terdapat sistem stabilizer, pemakaian ISO tinggi dapat diandalkan saat cahaya kurang mencukupi yang beresiko turunnya shutter speed.
  • Gunakan tripod. Asesori satu ini bukan hanya milik pecinta landscape, namun juga pecinta tele-fotografi. Pertama, tripod akan mencegah getaran tangan saat memotret. Kedua, tripod bisa mencegah tangan menjadi pegal saat menopang lensa dengan berat beberapa kilogram. Dua manfaat sekaligus didapat dengan memakaitripod, sehingga hasil foto dengan lensa tele akan tajam dan menawan.

Jadi, memiliki lensa tele ekonomis dengan bukaan variabel bukanlah sesuatu yang menghalangi kreativitas kita selagi tahu kekurangan dan trik menyiasatinya. Apalagi karena harganya yang murah, banyak orang yang sudah punya DSLR dengan lensa kit lantas membeli lensa tele ini sebagai lensa keduanya. Bila anda pemakai Canon / Nikon, hindari membeli lensa tele tanpa stabilizer meski harganya sedikit lebih murah. Namun untuk para profesional yang perlu kinerja lensa tele di segala kondisi pencahayaan, lensa bukaan konstan f/2.8 yang besar, berat dan mahal mutlak perlu karena mereka tidak boleh berkompromi dengan hal-hal diatas. Untuk para enthusiast, hobby fotografi dan semi-pro, bisa memakai lensa tele bukaan konstan f/4 yang lebih ekonomis dan lebih kecil dari lensa bukaan konstan f/2.8.

Yuk bahas soal lensa tele melalui komentar di bawah ini.

46 Tanggapan leave one →
  1. 2009 April 23
    agung permalink

    ask,,
    lensa tele yg cocok untuk foto panggung yg seri apa??? untuk nikon D40..
    yang jelas murah meriah,, yg g bikin kantong bolong,, salam,,

    • 2009 April 23

      Murah meriah itu berapa? Kalau panggung kan biasanya gelap jadi perlu lensa bukaan besar, nah yg termurah paling AF-S 80-200mm f/2.8 tuh, bisa auto fokus di D40. Kalo lensa tele biasa sih 55-200mm juga bisa buat panggung, tapi speed jadi lambat karena f/5.6 di 200mm sehingga kalo si penyanyi gerak2 ya blur (spt contoh foto saya diatas).

      • 2009 April 23

        Lensa Nikon 80-200mm AF-S sepertinya tidak diproduksi lagi, cuma bisa beli bekas saja.

        Alternatif lain yaitu Sigma 70-200mm f/2.8 HSM for Nikon, masalahnya lensa ini lebih mahal dari kamera D40nya lebih sendiri *hampir 2X lipat.

        Kalau pengguna Canon, lebih mudah, pakai kamera Canon 1000D yg murah meriah misalnya, plus 85mm f/1.8 USM udah lumayan mantap.

        Jadi jawabannya: tidak ada yang ideal

        kalau mau manual focus ada, Nikon 85mm f/1.8 USM (sekitar $350) cuma repot banget dan tidak dianjurkan.

  2. 2009 April 23

    itu foto2 yang diambil mas ya?

  3. 2009 April 24

    Good job..

  4. 2009 April 24
    agung permalink

    ya setidaknya g semahal body nya lah,, but thx saran nya,, akan sy pertimbangkan lagi,, salam

  5. 2009 April 24
    Bugi Arman permalink

    …saya pake 55-250 IS utk foto panggung bagus kok,cuman tipsnya Mas gaptek bener tu, pake tripod jd lebih mantap…, temen saya ada yg pake D40 + 55-200 vr jg bagus hasilnya, …harganya jg masih terjangkau..

  6. 2009 April 25
    marsel permalink

    saya pgguna d60 + sigma 18 – 200. foto jrak jauh, speed rendah shake truss!
    apa krn ga ad hsm ny y ? ato hrs pke tripod…

    • 2009 April 25

      Speed rendah hindari fokal panjang, karena akan membuat bukaan diafragma mengecil dan fokal panjang lebih rentan shake. HSM / SWM tidak ada kaitannya dgn shake, tapi ke kinerja auto fokus. Tripod bisa mencegah shake karena getaran tangan, tapi tdk bisa mencegah motion blur di speed rendah.

      O ya, sigma 18-200 hasil fotonya bagus tidak? Ketajaman saat dibuka maksimal bgmn? Trus saat tele maksimum 200mm gambarnya msh tajam tdk?

      • 2009 April 26
        marsel permalink

        ouuu gt toh! b’arti lensa krg mndukung u/ candid y mas? klo bisa solusi ny y.. thx

      • 2009 April 26
        marsel permalink

        hmm karna sya blm dpt pembanding dg lensa lain sigma 18-200 F3.5-6.3 DC bagus… ;)
        bukaan max gmbar lumayan tajam, tele max hngga zoom 100 gmbar msh tajam…

  7. 2009 April 25

    cuma kalau pakai shutter speed rendah dan pakai monopod ga bisa ngebekuin/freeze gerakan penyanyi tersebut, saya kira perlu shutter speed 1/125 atau lebih cepat lagi.

    Kalau memang bisa dekat dengan panggung, saya kira lensa cepat seperti 50mm f/1.8, 1.4 lebih efektif.

    marsel: iya perlu tripod

    • 2009 April 26
      marsel permalink

      hmm mgkin solusi yg sya tnyakn ke mas gaptek sdh trjawab oleh anda.. ;) thx..

  8. 2009 April 26
    Arif R permalink

    lensa di foto sama dengan punyaku : 55-200VR. tak pake di D40. Mantap.
    Trik dari mas gaptek oyi banget.

  9. 2009 April 27

    sy sungguh berterima kasih kpd Mas Gaptek yg sangat tidak gaptek..karena sharingnya sangat bermanfaat bagi saya yg baru berkeinginan mempelajari fotografi. Sy memiliki Canon 450D Kit, dan berkeinginan memiliki lensa telezoom. Perkenankan saya bertanya, dengan budget 3-5 juta rupiah, lensa tele apa yg menurut Mas Gaptek terbaik utk fotografi allround (indoor and outdoor)

    terima kasih atas informasinya

    Salam
    Handoko

    • 2009 April 27

      Dengan dana dibawah 3 juta sebenarnya anda sudah bisa menjajal lensa tele ekonomis spt EF-S 55-250 IS atau Sigma 70-300 APO.

      Namun lensa all round yg cocok indoor dan outdoor cukup mahal, spt 70-200 f/4 (IS atau non IS).

  10. 2009 April 27

    Halo,

    Saya tadi sempat coba Canon 400 D milik mahasiswa saya dengan lensa 50mm 1.8. Setahu saya, dengan spek lensa seperti itu, panjang focal lengthnya tidak bisa berubah-ubah, alias fixed 1.8. Tapi kenapa tadi saya bisa merubah-rubahnya dengan memencet tombol di dekat layar dan scroll ? Saya lihat di layar, angka 1.8 nya bisa berubah sampai 4.5 kalau tidak salah. Apa memang lensa itu bisa berubah-rubah focal lengthnya meskipun speknya fixed 1.8 ?

    • 2009 April 27

      Lensa fix / prime itu yang fix adalah fokal lensanya (semisal 35, 50, 85 dsb) dan bukan bukaan diafragmanya. Kalau di lensa fix tertulis f/1.8 itu menunjukkan bukaan maksimal si lensa di f/1.8, dan bila bukaan ini dikecilkan, bisa mengecil berturut-turut f/2, f/2,8, f/3,5 hingga f/22. Bermain dgn bukaan itu perlu dalam fotografi, karena disinilah intensitas cahaya dikendalikan. Selain itu bermain bukaan artinya bermain bokeh / blur background. Tapi fokal lensa tetap/fix membatasi permainan komposisi karena tidak bisa zoom-in/zoom-out sehingga kita harus menyesuaikan maju mundur utk dpt komposisi yg tepat.

      • 2009 April 28

        O, begitu ya.
        Kemarin, pas saya coba jepret dengan 1.8, hasilnya kok buram sekali. Gelap gitu. Padahal sinar matahari cukup terang (walau di dalam ruangan). Tapi setelah saya kecilkan diafragmanya menjadi sekitar 3.5, kok hasil jepretan jadi lebih terang ? Bukannya 1.8 seharusnya menghasilkan gambar lebih terang dibanding 3.5 ? Apa yang terjadi ?

        • 2009 April 28

          Aneh dong… kenapa ya? Shutternya terlalu tinggi mungkin?

        • 2009 April 28

          mungkin kamera mode yang Anda pakai semi automatic (mode A, S, scenes mode etc). Coba set ke manual (M) mode dan coba lagi.

        • 2009 April 29

          Hmm… gitu ya. Ok, thx. nanti saya utak-atik lagi sekalian belajar. Blog ini sangat membantu. Maju terus !

  11. 2009 April 29
    SABIAN permalink

    lensa tele u oly e500 yang merk nikon ada gak?

    • 2009 April 30

      Bukannya oly punya lensa zuiko yg juga bagus? Setahu saya kalau mau pasang lensa nikon di DSLR lain (misal canon) ada adapter khusus. Tapi tidak tahu ya kalo adapater utk format four thirds mount…

      Pssst… kalo suka lensa nikon kenapa nggak beli bodi nikon aja :)

  12. 2009 April 30
    Adri permalink

    Perkenalkan saya Adri pembaca setiamu Mas Gaptek
    Canon mengeluarkan Super Telepohoto 1200 mm, wah nggak kebayang, bica “nginceng” orang mandi dari jarak 1 km dong. Diulas dong, walaupun saya yakin nggak ada pembacamu yang bisa beli (semoga salah), tapi asyik aja buat tambah pengetahuan. Harganya saja $ 120.000, atau lebih dari Rp 1,3 M

    • 2009 April 30

      Itu lensa apa teleskop ya :)

      Di kantor saya juga teman2 news dept. punya kamera video yg lensanya super panjang, sekitar satu meter dan diameternya lebih besar dari piring makan kita. Untung yg beli kantor jadi karyawannya bisa menjajal gratis. Saking besarnya, lensa itu malah ngganggur karena kalo dibawa liputan repot.

  13. 2009 Mei 7
    Toni permalink

    Boleh tanya ya…
    Apa sih keunggulan lensa prime dibanding lensa zoom.

    Semisal saya ingin beli (ignore budget –he3x) — mana lebih baik:
    1. sebuah lensa 16-35/2.8 atau
    2. 14/2.8 + 35/1.4

    Dengan mempertimbangkan keunggulan prime vs zoom..

    Trimakasih..
    Toni
    yangbercitacitapunyacamerafullframe….

    • 2009 Mei 8

      Lensa prime lebih tajam dan lebih cepat. Tapi lensa zoom kelas mahal (spt 17-35 f/2.8) punya ketajaman yg (hampir) menyamai lensa prime, tapi kan harganya bisa 3x lipat. So, pilihan ada pada kebutuhan, karena masing2 punya plus minus sendiri.

    • 2009 Mei 8

      Ton, Anda membandingkan apel dan jeruk. Masing2 punya karakteristik yang berbeda jadi ga bisa menentukan mana paket terbaik. Tapi mengingat anggaran Anda tidak terbatas, maka sebaiknya beli semua he he he.

  14. 2009 Mei 8
    anggi permalink

    Mas Gaptek kalo lensa tele ekonomis Nikon 70 -300 VR F/4 masih bagus nggak untuk photo bokeh? apakah signifikan bedanya dengan 80 – 200 f/2.8…makacih ya..

    • 2009 Mei 8

      Nikon belum punya lensa 70-300 VR f/4, ada juga f/4.5-5.6 dan soal bokeh tentu kalah dengan yg f/2.8 (harga juga beda…) tapi kan 80-200 udah langka.

  15. 2009 Mei 20

    Mantap, 70-200 ya? Lensa profesional tuh, gak usah tanya fitur dan kualitasnya. Pasti puas dan AF-nya pasti jalan di D40x. Kalo lagi gak dipake motret, lensanya bisa buat fitness / angkat beban :)

    • 2009 Juni 13
      febby permalink

      hahaha 1ya tuh 70-200,tmen kantorku ada yg pake, emg mantap abis….maknyus…lowlight oke oke oke
      pengenn….. tp… membuat kantong bolong haha

  16. 2009 Agustus 20
    dely permalink

    mas lensa tele yg mana ya yg cocok bwt nikon D5000 bwt foto lenscape?

  17. 2009 September 7
    Adimaz indra permalink

    mas…mau konsultasi nih,,
    saya pingin beli tele canon 70-200 2.8 ..
    tapi bingung milih yang IS ato yang non iS….

    1 .sy dngar2 kalo non IS lebih bagus di hasil jpretan,apa bner?
    apa non IS gmpg bkin jpretan kita shake kalo di low light…?

    2.apa 70-200 2.8 IS lensa terbaiknya canon di med-tele ?

    • 2009 September 7

      Saran saya untuk lensa tele apapun, usahakan ada IS-nya. Jangankan di low light, di saat terang pun kalau kita pakai zoom mentok, IS ini akan berguna. Maka itu lensa yg cukup laris justru Canon 70-200mm f/4 IS, karena meski bukaannya cuma f/4 tapi ada IS-nya.

      Tapi mengingat anda perlu lensa f/2.8, dan mengingat beda harga versi IS dan non-IS cukup jauh, tentu keputusan ada di tangan anda. O ya, 70-200mm f/2.8 IS memang lensa Canon terbaik di kelas medium tele.

  18. 2009 November 8
    Galuh permalink

    Mas, saya pake Canon 1000D + kit, rencana mau nambah lensa tele zoom. mohon saran lensa apa cocok & harga ekonomis? kalau saya beli Canon EF 75-300 f4-5.6 III USM (second) bagaimana..?soalnya dari beberapa review yang saya baca, lensa non IS (Canon) rentan blur. ..thanks…..

  19. 2009 November 10
    El Setiyawan permalink

    mas, mau tanya…saya punya lensa Olympus 40-150mm
    itu termasuk tele bukan ya?? thanks

    • 2009 November 10

      ya, udah masuk lensa tele karena sensor 4/3 itu crop factornya 2x jadi lensa tsb punya fokal setara 80-300mm.

  20. 2009 November 13
    erwin permalink

    Mas gaptek yang gape teknologi..
    aku mau nambah lensa (buat 500D) lagi cuman bingung soal efisiensi dan efektifitas kalo digunakan juga soal harga, pilihan ada 3 nih :
    1. zoom (nemenin lensa kit) Canon Lens EF-S 55-250mm F4.5-6 IS, harga sangat bersahabat,
    cuman takut ribet makenya soalnya harus selalu ganti lensa.
    2. zoom dengan rentang besar (kit pensiun)
    – Tamron AF 18-200mm/f3.5-6.3 XR Di-II LD Aspherical Macr, relatif murah dan
    tejangkau namun apakah ini outofokusjuga?
    – Canon EF 18-200mm/f3.5-6.3 IS, tp harganya ampyun..
    – atau ada lensa lain yg lebih bersahabat?
    mohon pencerahan mas.. supaya tambah bingung.. hahaha

    • 2009 November 13

      Maunya kok tambah bingung, mau diracunin lensa 70-200 IS ???

      Pengalaman saya : dual lens ribet, repot dan kalo sering ganti debu pada masuk. Tapi kalo gak punya tele rindu juga sama bokehnya.

      Super zoom alternatif spt tamron sigma dkk oke aja, saya juga dulu pingin tapi apa daya D40 tidak punya motor AF. Btw, lensa jenis ini optiknya biasa2 aja.

      Super zoom EF-S 18-200 tentu pilihan tepat, sayangnya tidak spt nikon AF-S, si EF-S ini belum pake motor USM.

      Saya lalu pilih yg ‘tengah2′ yaitu 18-105mm VR, lha kalo anda mau spt saya bisa nunggu datangnya EF-S 18-135mm IS.

      • 2009 November 13
        erwin permalink

        ternyata sdh ada mas, pas buka fokus nusantara lensa Canon EF-S 18-135mm f/3.5-5.6 IS, harga Rp 4.180.000… yah nabung dulu deh.. sabar.. sabar

        spec :
        Focal length : 18-135 35mm
        equivalent focal length (APS-C) : 29-216mm
        Diagonal Angle of view (APS-C) : 74º – 20′ – 11º – 30′
        Minimum aperture : F22-36
        Lens Construction : • 16 elements/12 groups
        Minimum focus : 0.45m
        Maximum magnification : 0.21x at 135mm
        Image stabilisation : Yes
        Filter thread : • 67mm
        Supplied accessories : • Front and rear caps
        Weight 455 g 16 oz) Dimensions : 75.4 mm diameter x 101 mm
        length : (3.0 x 4.0 in)

        • 2009 November 13

          Iya deh, yang pake canon selamat menabung. Sayang nikon gak punya 18-135mm VR..

Lacak Balik & Ping Balik

  1. Mini review : Nikkor AF-S 18-105mm VR « dunia digital

Tinggalkan Balasan

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Berlangganan umpan komentar ini melalui RSS